Enkripsi Pembawa Masalah

Amber Rudd, Home Secretary  Inggris mengatakan bahwa perusahaan teknologi besar harus meningkatkan upaya melawan ekstremisme atau berhadapan dengan undang-undang baru. Ia menambahkan bahwa perusahaan teknologi tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengalahkan musuh (ekstremisme)  di internet. Ia berpendapat bahwa enkripsi yang digunakan oleh aplikasi perpesanan telah menimbulkan masalah.

Amber Rudd akan bertemu dengan perwakilan dari Google, Facebook, Twitter, Microsoft dan lainnya di forum kontra-terorisme di San Francisco. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama Forum Internet Global untuk Menghadapi Terorisme, sebuah organisasi yang didirikan oleh perusahaan-perusahaan besar setelah serangan teror baru-baru ini.

Dalam sebuah pernyataan bersama, perusahaan yang mengambil bagian dalam forum tersebut mengatakan bahwa mereka bekerja sama untuk secara substansial mengganggu kemampuan teroris dalam menggunakan internet, sekaligus menghormati hak asasi manusia.

Rudd diperkirakan akan memberi tahu perusahaan-perusahaan besar bahwa ekstremis seharusnya tidak diizinkan untuk mengunggah konten sama sekali. Ia secara terus-terang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan hal yang ingin dicapainya.

Grup hak privasi Electronic Frontier Foundation telah menyatakan keprihatinannya tentang kemungkinan pencekalan konten lebih keras seperti yang diinginkan Amber Ruud. Menurut mereka langkah tersebut akan memiliki dampak signifikan pada kebebasan berbicara secara online.
Ross Anderson, pakar kriptografi di Universitas Cambridge menambahkan bahwa ia khawatir pihak berwenang dan perusahaan Silicon Valley membuat kesepakatan di balik pintu tertutup yang pada akhirnya akan merusak keamanan.

Dalam beberapa tahun terakhir, layanan perpesanan, termasuk Facebook, Apple, dan Google, telah mengadopsi enkripsi end-to-end, lapisan tambahan kompleksitas yang membuat hampir tidak mungkin mengakses pesan tanpa izin pengguna. Langkah tersebut telah digembar-gemborkan oleh perusahaan teknologi sebagai alat vital untuk privasi. Namun pihak berwenang di seluruh dunia mengatakan enkripsi end-to-end telah menciptakan bagian internet yang tidak terjangkau yang menjadi tempat persembunyian para teroris untuk merencanakan aksi terorisme.

Sumber: BBC