Facebook Blokir Iklan dari Pages yang Berulang Kali Membagi Hoax

Facebook terus melakukan tindakan keras terhadap berita palsu. Pada hari Senin yang lalu, Facebook mengumumkan bahwa Facebook Pages tidak lagi dapat beriklan di situs Facebook jika mereka berulang kali membagi artikel berita yang ditandai palsu oleh organisasi pengecekan fakta pihak ketiga. Pemilik halaman dapat kembali beriklan di Facebook jika mereka kemudian memilih untuk bertindak secara bertanggung jawab/tidak lagi membagi hoax.

Langkah ini akan membatasi penyebaran berita palsu secara masif karena biasanya Page membayar atau beriklan agar postingan mereka dilirik oleh pengguna. Dengan beriklan, artikel bisa lebih banyak diklik dan dibaca pengguna Facebook.

Rob Leathern, product manager di Facebook mengatakan bahwa Facebook menginginkan pengguna tetap mendapat informasi tentang teman, keluarga, dan topik yang mereka pedulikan di Facebook, tetapi berita palsu merusak kepercayaan. Menurutnya memblokir iklan sebagian besar merupakan cara menghilangkan insentif untuk pembuatan berita palsu.

Pembaruan yang dilakukan Facebook tersebut juga akan membatasi kemampuan pengguna untuk mengembangkan hack Facebook Page, seperti peningkatan follower atau Likes dengan membagikan artikel berita palsu (yang biasanya sangat menarik). Membayar iklan Facebook memungkinkan artikel berita palsu ini muncul di Feed berita pengguna yang selanjutnya akan menambah follower dan Likes.

Sebelumnya, Facebook memperkenalkan sebuah kemitraan dengan pemeriksa fakta pihak ketiga, beberapa bulan setelah CEO Mark Zuckerberg meremehkan dampak berita palsu pada pemilihan presiden AS tahun 2016. Tak lama setelah pemilihan, Zuckerberg menulis lebih dari 99% dari apa yang orang lihat adalah otentik. Hanya jumlah yang sangat kecil adalah berita palsu dan tipuan.

Sejak klaim itu, Facebook telah melakukan beberapa langkah untuk mengurangi sebaran berita palsu di jaringannya. Langkah lainnya termasuk mematikan jaringan bot yang digunakan untuk menipu pengiklan dan mengubur tautan dari situs web dengan pengalaman iklan yang buruk.

Sumber: Facebook via Mashable