Google Gunakan Artificial Intelligence untuk Menghapus Konten Esktremis

Google berjanji untuk terus mengembangkan program lanjutan dengan menggunakan machine learning untuk memerangi bangkitnya konten ekstremis di YouTube. Hal tersebut karena Google menemukan bahwa dengan menggunakan kecerdasan buatan, lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia dalam menghapus konten ekstremis di YouTube.

Google menggunakan machine learning bersama dengan manusia yang berfungsi sebagai reviewer sebagai bagian dari pendekatan multicara untuk mengatasi penyebaran video ekstremis dan kontroversial di YouTube, yang juga mencakup standar yang lebih ketat untuk video dan perekrutan lebih banyak pakar untuk menandai konten yang perlu ditinjau.

Sebulan setelah mengumumkan perubahan tersebut, Google mengatakan bahwa sistem pembelajaran mesinnya telah membuat lompatan besar dalam mengatasi masalah video ekstremis. Juru bicara YouTube mengatakan bahwa meskipun alat tersebut tidak sempurna dan tidak bisa selalu tepat untuk setiap kondisi, dalam banyak kasus sistem tersebut terbukti lebih akurat daripada manusia dalam menandai video yang perlu dihapus.

Juru bicara tersebut juga mengatakan bahwa penggunaan awal machine learning telah melipatgandakan jumlah video yang telah dihapus karena ekstremisme dan juga tingkat penghapusan konten serupa. Lebih dari 75% video yang telah dihapus karena ekstremisme pada bulan lalu dihapus sebelum menerima penandaan dari manusia.

Salah satu masalah yang dimiliki YouTube dalam memosisikan situsnya untuk konten terlarang adalah pengguna mengunggah konten sejumlah 400 jam setiap menit. Hal ini membuat penyaringan konten ekstremis secara real time merupakan tantangan besar yang hanya bisa dilakukan oleh pendekatan secara algoritma.

Dengan pendekatan ini akan lebih banyak konten yang bisa direview dan kalau mengandung konten eksremis langsung dihapus tanpa harus ada campur tangan manusia. Hal ini merupakan solusi yang bagus mengingat sedemikian banyaknya konten yang diunggah pengguna ke YouTube.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: DNA India