Google Hapus Aplikasi Gab karena Ujaran Kebencian

Google telah menghapus aplikasi Gab, sebuah layanan media sosial yang disukai oleh kalangan sayap kanan, dari toko aplikasi Google Play karena melanggar kebijakan layanan tentang ujaran kebencian. Gab mengakui hal tersebut melalui sebuah tweet minggu lalu.

Gab didirikan sebagai alternatif Twitter bagi mereka yang percaya pada kebebasan berbicara, kebebasan individu, dan arus informasi online yang bebas. Situs ini telah menarik selebriti internet sayap kanan yang telah dilarang oleh Twitter, seperti mantan penulis Breitbart Milo Yiannopoulos, dan mereka yang percaya bahwa situs media sosial utama menekan sudut pandang konservatif.

Juru bicara Google mengatakan dalam sebuah pernyataan, agar dapat berada di Play Store, aplikasi jejaring sosial perlu menunjukkan tingkat moderasi yang memadai termasuk terhadap konten yang mendorong kekerasan dan mendukung kebencian terhadap sekelompok orang.

Hal tersebut merupakan peraturan yang sudah lama ada dan dinyatakan dengan jelas dalam kebijakan pengembang Google. Pengembang selalu memiliki kesempatan untuk mengajukan banding atas penangguhan dan mungkin aplikasi mereka dipulihkan jika mereka mengatasi pelanggaran kebijakan dan mematuhi Developer Program Policies Google.

Namun juru bicara Gab Utsav Sanduja mengatakan bahwa Gab berpendapat bahwa langkah tersebut mungkin terkait dengan kritiknya terhadap Google dalam beberapa pekan terakhir karena pemecatan terhadap karyawan Google yang menulis memo antikeberagaman James Damore. James Damore merupakan seorang programmer yang menulis memo internal yang memecah belah ketimpangan gender tenaga kerja industri teknologi. Ia menduga bahwa ini adalah bentuk pembalasan dari Google.

Gab telah berada di Google Play Store selama berbulan-bulan dan adalah aneh karena baru sekarang dihapus. Dia juga mencatat bahwa aplikasi mereka telah ditolak dari toko Apple sembilan kali karena alasan kebijakan ujaran kebencian perusahaan di Apple Inc.

Google dan platform internet lainnya telah mengintensifkan upaya untuk memisahkan diri dari kelompok pembenci menyusul demonstrasi supremasi kulit putih yang mematikan di Charlottesville, Va, akhir pekan lalu. Sanduja mengatakan bahwa tidak masuk akal Google tiba-tiba khawatir dengan keluhan tentang ujaran kebencian.

Kebijakan ujarankebencian Google menyatakan bahwa Google tidak mengizinkan aplikasi yang menganjurkan kelompok orang berdasarkan ras atau asal etnis, agama, kecacatan, jenis kelamin, usia, kewarganegaraan, status veteran, orientasi seksual, atau identitas gender mereka.

Sumber: The Hill