India Tak Berdaya Melawan Berita Palsu di WhatsApp

Ketika pemerintah India mengancam akan memenjarakan siapapun yang bertanggung jawab atas berita palsu di balik jeruji besi, sebenarnya mereka tidak tahu persis bagaimana hal tersebut akan dilakukan. Menteri Electronics and Information Technology India mengakui bahwa negara tersebut tidak berdaya sama sekali. Mereka tidak dapat mengakses konten yang tidak pantas karena adanya enkripsi.

Enkripsi WhatsApp adalah satu-satunya penyumbat kemampuan pemerintah India untuk bertindak berdasarkan isi percakapan WhatsApp yang dilaporkan. Pemerintah India seharusnya bisa menggunakan undang-undang yang sudah ada untuk menghukum orang karena menyebarkan berita palsu. Namun karena adanya enkripsi hal tersebut tidak bisa dilakukan.

Menurut WhatsApp, pesan yang dikirim memiliki end-to-end encryption dan mereka dan pihak ketiga tidak dapat membacanya. Dengan kata lain, pesan hanya dilihat oleh pengirim dan penerima. WhatsApp menyediakan fitur untuk melaporkan konten yang tidak pantas. Namun, mereka juga mengakui bahwa  mereka tidak memiliki isi pesan yang dilaporkan tersebut sehingga membatasi kemampuan mereka untuk bertindak. Satu-satunya cara adalah pengguna dapat mengambil screenshot dari konten dan membaginya dengan pihak penegak hukum yang sesuai.

India bukan satu-satunya negara yang mengekspresikan rasa frustrasi terhadap fitur enkripsi. Negara-negara seperti Australia dan Inggris telah menyebutkan masalah keamanan saat meminta perusahaan teknologi, terutama Facebook untuk memberi otoritas akses ke konten saat dibutuhkan. Aplikasi Messaging Telegram telah peringatkan karena menciptakan tempat yang aman bagi para teroris untuk merencanakan serangan di negara-negara seperti Indonesia dan Rusia.

Meskipun tidak ada backdoors untuk melihat konten terenkripsi yang telah dibuat, perusahaan cukup responsif terhadap seruan berulang pemerintah untuk bertindak melawan terorisme. Facebook, misalnya, adalah bagian dari forum bersama yang dibuat dengan raksasa teknologi lainnya seperti YouTube dan Twitter untuk memerangi ekstremisme.

Kini tampaknya, India sama sekali tidak berdaya dalam usahanya menyingkirkan konten yang tidak diinginkan dari WhatsApp. Pada bulan Mei yang lalu, seorang administrator grup WhatsApp ditangkap karena telah membagikan gambar perdana perdana India yang telah diedit sehingga terlihat jelek dan cabul. Penangkapan tersebut dilakukan hanya dua minggu setelah seorang hakim India mengumumkan peraturan baru yang melarang pengguna WhatsApp menyebarkan berita palsu di aplikasi tersebut dengan mengatakan bahwa pihaknya akan meminta administrator grup WhatsApp bertanggung jawab atas penyebaran konten tersebut.

Sumber: CNet