Pelecehan Online Sama Seriusnya dengan Pelecehan Offline

Para jaksa di Wales dan Inggris telah diberitahu bahwa kejahatan kebencian online harus diperlakukan dengan serius seperti kejahatan kebencian yang dilakukan secara tatap muka. Crown Prosecution Service, Inggris telah merevisi panduannya untuk jaksa dan mengatakan bahwa dampak dari penyalahgunaan tweet dapat dianggap  sama menghancurkannya dengan meneriakkannya secara langsung.

Panduan yang telah direvisi tersebut mencakup pelanggaran terhadap biseksual untuk pertama kalinya. Director of Public Prosecutions Alison Saunders mengatakan bahwa pelecehan online dapat memicu permusuhan yang berbahaya.

Sebagaimana diketahui, kejahatan kebencian adalah pelanggaran yang didorong oleh permusuhan atau prasangka, termasuk rasisme, seksisme atau homofobia.

Saunders mengatakan peristiwa baru-baru ini di AS, yaitu kaum nasionalis kulit putih bentrok dengan demonstran  di Charlottesville menunjukkan pelecehan online bisa mengakibatkan bentrokan. Berteriak secara langsung ke seseorang di jalan, mengecat dinding atau melakukan tweet memberikan dampak yang sama menghancurkannya. Dia mengatakan bahwa internet dan media sosial khususnya telah menyediakan platform baru atau media baru untuk pelecehan.

Tentu saja kejahatan kebencian tersebut tidak hanya terjadi di Inggris atau Amerika Serikat. Di Indonesia, sepanjang Pilkada DKI yang lalu, konten hate speech sangat mendominasi. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, apalagi hal ini bisa ditiru oleh daerah lainnya untuk memuluskan calon yang mereka senangi.

Untuk itulah perlu penanganan serius terhadap kejahatan kebencian online karena memiliki efek yang sama dengan kejahatan kebencian offline. Terlebih lagi kejahatan kebencian online ini bisa memicu chaos.

Sumber: BBC