Kekhawatiran Terhadap Berita Palsu Meningkat

Jajak pendapat yang dilakukan oleh BBC World Service menunjukkan adanya kekhawatiran yang meningkat di kalangan pengguna internet global terhadap berita palsu online. Jajak pendapat tersebut juga mengindikasikan adanya penentangan terhadap upaya pemerintah/negara dalam mengatur internet. Dalam survei terhadap 18 negara, 79% responden mengatakan bahwa mereka khawatir terhadap apa yang palsu dan apa yang nyata di internet. Namun hanya di dua negara, yaitu China dan Inggris di mana mayoritas menginginkan pemerintah mereka mengatur internet.

Dari jumlah responden, 58% mengatakan bahwa internet tidak boleh diatur, naik dari 51% ketika pertanyaan yang sama diajukan tujuh tahun yang lalu. Ketika sampai pada peraturan, 67% responden China sekarang ini menyukai gagasan tersebut, sementara pendapat lebih berimbang di Inggris, di mana sebanyak  53% responden mendukung. Negara-negara di mana orang yang paling memusuhi peraturan adalah Yunani dengan 84% dan Nigeria, di mana 82% orang menentang gagasan tersebut.

Kekhawatiran tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata atau palsu di internet telah meningkat setahun sejak istilah berita palsu tersebut telah menjadi hal yang biasa dan menguntungkan, di mana berita palsu dibagikan di Facebook yang membuat pembuatnya dapat memperoleh pendapatan yang mudah melalui iklan.

Orang Brazil paling khawatir dengan garis kabur antara yang nyata dan yang palsu di mana 92% melaporkan kekhawatiran mereka. Di sejumlah negara berkembang lainnya ada tingkat kegelisahan yang tinggi, dengan angka 90% di Indonesia, 88% di Nigeria dan 85% di Kenya. Jerman adalah satu-satunya negara yang disurvei di mana mayoritas yang sempit, yaitu 51% mengatakan bahwa mereka tidak khawatir dengan masalah ini. Menjelang pemilihan umum di negara tersebut, telah ada upaya keras di Jerman untuk membasmi berita palsu.

Terdapat juga kecemasan yang berkembang tentang mengekspresikan opini secara online. Di 15 negara yang telah dilacak secara reguler dalam jajak pendapat ini, 53% merasa tidak aman melakukan ini, dibandingkan dengan 49% di tahun 2010.

Namun ada perbedaan mencolok antara sikap di negara maju dan berkembang. Di Nigeria, Peru dan China ada mayoritas besar yang percaya diri untuk mengungkapkan pendapat, tetapi di Eropa dan Amerika Utara ada lebih banyak kegelisahan, dengan orang Prancis dan Yunani cenderung tidak mau berbicara dengan bebas.

Seiring berkembangnya internet secara global, tampaknya ada antusiasme untuk melihatnya sebagai sesuatu yang setiap orang berhak. 53% dari mereka yang ditanya setuju bahwa akses ke internet harus menjadi hak fundamental, dengan mayoritas besar menyetujui di Brasil, Yunani dan India.

Survei tersebut menyoroti beberapa perbedaan antara pria dan wanita dalam sikap terhadap internet. Pria masih lebih cenderung menggunakannya, dengan 78% mengatakan mereka telah online dalam enam bulan terakhir, dibandingkan dengan 71% perempuan. Perempuan cenderung merasa kurang aman dibandingkan laki-laki  untuk untuk mengekspresikan pandangan mereka secara online. Kecemasan itu paling terasa di negara maju. Di Prancis hanya 14% yang merasa aman, sedangkan di Inggris jumlahnya 36%, dan di AS 35%. Perempuan Inggris juga lebih memperhatikan konten palsu daripada pria, dan lebih tertarik untuk melihat beberapa peraturan tentang internet.

Sumber: BBC