Pengguna Twitter Tak Mau Membiarkan Berita Palsu Menyebar

Twitter merupakan salah satu media sosial yang dibanjiri oleh berita palsu. Namun bukan berarti bahwa pengguna Twitter senang dengan banjir berita palsu tersebut.  Penelitian Cornell University terbaru setidaknya menawarkan harapan bagi mereka yang berharap bisa melawan kabar dan rumor palsu yang membajiri internet.

Ketika pengguna Twitter men-tweet-kan rumor palsu, mereka dua kali lebih mungkin menerima koreksi dari mutual friends, yaitu seseorang yang mereka ikuti yang juga mengikuti mereka dibandingkan dengan dikoreksi oleh seseorang yang tidak memiliki hubungan Twitter. Ini artinya jika seseorang yang saling mengikuti di Twitter melakukan tweet berisi kabar/rumor palsu mereka dua kali lebih mungkin dikoreksi oleh follower-nya juga mereka ikuti.

Di Twitter efek persahabatan nampaknya lebih kuat daripada efek politik. Pengguna Twitter dalam penelitian ini cenderung menerima koreksi tentang rumor politik, dibandingkan dengan rumor tentang topik nonpolitik. Akan tetapi jika koreksi oleh follower, bahkan pada topik politik, koreksi tersebut memiliki efek yang lebih kuat, yaitu  membuat penerimaan lebih mungkin terjadi.

Drew Margolin yang melakukan penelitian ini mengatakan bahwa di lingkungan politik yang sangat kompetitif, peringatan dari teman-teman bisa menerangkan bahwa menyebarkan rumor dapat menyebabkan kesulitan bersama. Sebaliknya, peringatan dari orang asing dapat dianggap sebagai bukti bahwa informasi yang salah memberikan keuntungan strategis.

Penelitian ini menawarkan wawasan baru tentang diskusi media sosial dan filter buble. Sebagian besar diskusi sampai saat ini berfokus pada paparan berbagai jenis informasi. Sebaliknya, analisis ini menunjukkan bahwa paparan terhadap informasi yang berbeda seringkali tidak cukup untuk mengubah pikiran seseorang. Hal yang benar-benar penting adalah komitmen bersama antara orang-orang yang berbagi informasi.

Jika kita ingin membuat orang lain memperhatikan fakta tertentu lebih serius, kita harus membentuk ikatan pribadi dengan mereka, daripada hanya mencoba menemukan cara bagi algoritma untuk mengubah apa yang mengalir/terlihat di layar (smartphone) mereka. Ini artinya, jika Anda punya ikatan pribadi dengan seseorang, tidak peduli dengan filter buble di media sosial, mereka akan mendengarkan koreksi yang Anda lakukan terhadap kabar palsu atau rumor palsu yang mereka tweetkan dan kemungkinan besar koreksi tersebut diterima.

Sumber: Cornell Edu