Upaya Facebook Memerangi Berita Palsu Tidak Berhasil

Sebuah studi baru oleh Yale University telah menemukan bahwa upaya Facebook untuk memerangi berita palsu dengan pengecekan fakta hanya berdampak kecil dan dalam beberapa kasus, upaya tersebut bisa berakhir dengan viralnya berita palsu tersebut.

Facebook mengumumkan peluncuran alat pengecekan fakta pihak ketiga pada bulan Desember yang lalu setelah dituding tidak berbuat banyak untuk membantu menghentikan penyebaran berita palsu menjelang pemilihan presiden tahun 2016. Facebook saat ini bekerja sama dengan lima organisasi pengecekan fakta, yaitu ABC News, AP, FactCheck.org, Politifact dan Snopes untuk melawan informasi yang menyesatkan.

Algoritma Facebook mencari berita yang tampaknya salah dan kemudian menambahkannya ke antrean berita untuk dicek kebenarannya. Jika dua dari lima organisasi pengecekan fakta tersebut menemukan berita tersebut palsu, maka berita tersebut diberi label dispute. Namun, studi Yale University menemukan bahwa dengan memberikan label “Disengketakan oleh pemeriksa fakta pihak ketiga”, pemeriksa fakta hanya 3,7 persen lebih mungkin untuk benar menilai apakah sebuah cerita itu benar adanya.

Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan yang saat ini digunakan hampir tidak cukup untuk merongrong kepercayaan terhadap berita palsu dan diperlukan strategi baru yang didukung secara empiris. Terlebih lagi, karena begitu banyaknya informasi yang salah di internet, pemeriksa fakta Facebook hanya memiliki kemampuan untuk menandai sejumlah kecil berita. Hal ini berarti bahwa berita palsu yang terlanjur masuk atau dipublikasikan di internet tak bisa dibantahkan lagi. Backfire effect ini sangat kuat di kalangan pendukung Trump dan anak muda.

Gordon Pennycook dan David G. Rand, yang menulis penelitian tersebut mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa pemberian label mungkin lebih menimbulkan bahaya daripada kebaikan. Mereka menambahkan bahwa manfaat potensial utama dari label (pengecekan fakta) adalah bahwa hal itu (sedikit) meningkatkan kepercayaan pada berita yang sebenarnya. Hal ini tampaknya tidak mencukupi untuk menghentikan arus informasi palsu dan menyesatkan yang beredar di media sosial.

Fact-checker sebelumnya menyatakan frustrasi dengan upaya Facebook untuk memerangi berita palsu, dengan mengatakan bahwa platform tersebut tidak akan memberi mereka data yang memungkinkan mereka memprioritaskan berita berita palsu yang paling penting dan populer yang menurut Facebook tidak akan dirilis karena masalah privasi. Hal ini berarti bahwa pemeriksa fakta tidak dapat melihat efek apa yang dimiliki pekerjaan mereka dan apakah penandaan berita palsu yang mereka lakukan membuat berita tersebut menjadi lebih atau kurang populer.

Sumber: Think Proggress