Ketidakpahaman Etika Pangkal Perceraian Akibat Medsos

 

Pegiat Internet Sehat dari Information and Communication Technology (ICT) Watch, Acep Syaripudin mengatakan bahwa media sosial (medsos) sebagai penyebab perceraian bukanlah hal baru. Akibat dari ketidakpahaman akan etika bermain internet, banyak konflik berawal dari media sosial.

“Saya melihat fenomena ini tidak jauh bebeda dengan fenomena yang ada. Cuma bedanya adalah jaman dan teknologi yang dipakai saja,” kata Acep. Menurutnya banyak orang yang tidak mengetahui etika menggunakan internet dan media sosial. Sebetulnya antara interaksi maya dan nyata tidak jauh berbeda, bahwa ada etika yang harus dijaga. Hal tersebut yang seharusnya dipahami oleh masyarakat.

Sebenarnya, penggunaan internet memiliki sisi negatif dan positif, sesuai dengan siapa yang menggunakan. “Sama dengan media sosial kalau kita gunakan secara bijak ini akan bermanfaat untuk kita,” jelas Acep.

Ketika orang mengunggah sesuatu ke media sosial, mereka menganggap tidak ada yang memperhatikan. Padahal justru apa yang ia unggah akan menjadi konsumsi publik.

Penggunaan medsos yang berlebihan telah menjauhkan hubungan yang dekat dan mendekatkan hubungan yang jauh. Bukannya berkomunikasi dengan orang yang dekat, justru mengajak berkomunikasi dengan orang yang jauh. “Maka kalau kita sedang berkumpul, sebisa mungkin menghindari gadget. Karena quality timeyang baik adalah dengan berkomunikasi secara langsung,” ucap Acep.

Acep menambahkan, di luar sana sudah banyak kasus perceraian serupa sejak lama. Namun karena saat ini media sudah tersebar dimana-mana, maka kasus lebih mudah terekspos. “Perlu penegasan bahwa medsos memang membuka peluang lebar-lebar untuk hubungan karena tanpa batas, namun penting untuk diketahui bahwa pengguna adalah bagian yang sangat penting dalam kasus ini karena ketidaktahuan akan pemahaman dalam penggunaan medsos maka terjadilah kasus cerai,” tegas Acep.

Artinya, harus ada kontrol dalam penggunaan medsos. Pengguna harus tahu batas, tahu privasi, data dan etika serta yang penting tentu saja interaksi yang tidak berlebihan yang dapat membuat goyah rumah tangga.

Menurut data Pengadilan Agama Kota Bekasi, telah terjadi 2.231 perceraian hingga Oktober. Sejumlah 1.862 diantaranya disebabkan karena perselingkuhan melalui media sosial. Sementara itu, pada periode Agustus 2017, tercatat 157 kasus perceraian di Kota Depok yang mayoritas dikarenakan perselingkuhan di media sosial.

Sumber: Republika