Mesin Sensor Internet Seharga 200 Miliar Rupiah

Pemblokiran konten negatif di internet sepertinya akan terus dilakukan oleh Kominfo. Kominfo dikabarkan berusaha untuk memblokir seluruh konten negatif di internet, terutama yang berisi pornografi. Tentu saja usaha ini membutuhkan modal yang tidak sedikit, salah satunya adalah mesin sensor internet yang harganya dikabarkan mencapai 200 miliar rupiah.

Dikutip dari KataData, Direktur Jenderal Aplikasi Teknologi dan Informatika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan bahwa Kominfo akan fokus untuk memblokir konten pornografi. Menurut Semmy terdapat hampir 30 juta situs pornografi yang beredar di internet, sedangkan situs yang bisa diblokir hanya mencapai sekitar 700 ribu sehingga pemerintah perlu melakukan aksi nyata untuk menghapus pornografi.

Semmy menambahkan bahwa Mesin Sensor Internet akan membantu metode manual yang selama ini dilakukan oleh tim penelusur internet. Pasalnya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan sistem algoritma yang dijalankan oleh Articifial Inteligence (AI) untuk mendeteksi konten negatif. Tim penelusur akan melakukan pencarian konten negatif secara aktif, baik secara manual maupun digital. Setelah itu, temuan akan divalidasi oleh tim analisis. Jika terbukti, situs yang menyebar konten akan diblokir total.

Berbeda dengan metode yang dijalankan sebelum ada mesin sensor internet, pemerintah lewat jasa penyaringan konten hanya melakukan pemblokiran melalui laporan masyarakat. Nantinya, selain penyediaan barang, pemerintah juga akan melakukan penyediaan jasa.

Menurut Semuel, anggaran yang dikeluarkan oleh Kominfo sekitar Rp 200 miliar untuk mesin sensor internet, sedangkan dana Rp 74 miliar disiapkan sebagai pengadaan jasa, termasuk sumber daya untuk tim analisis, tim penelusuran, dan penyedia jaringan. Rencananya, sistem penelusuran yang akan diproses mesin sensor internet akan berjalan pada awal 2018. Selain situs internet, media sosial juga bakal dipantau oleh pemerintah dengan dasar hukum pemblokiran adalah Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sumber: Katadata