BaleBengong: Kiprah 10 Tahun Jurnalisme Warga di Bali

Media jurnalisme warga BaleBengong memberikan Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2017. Penganugerahan ini adalah kali kedua selama 10 tahun portal jurnalisme warga itu berkiprah di Bali.

Editor BaleBengong Anton Muhajir mengatakan posisi jurnalisme warga berfungsi sebagai pilihan dari media arus utama. “Ini (jurnalisme warga) melengkapi, bukan berhadap-hadapan dengan itu (media arus utama),” katanya disela acara Anugerah Jurnalisme Warga 2017 di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Minggu, 5 November 2017.

Menurut Anton, Anugerah Jurnalisme Warga sebagai bentuk apresiasi agar warga terlibat langsung sebagai sumber pertama dalam menulis berita. Ia berharap kelak akan ada penghargaan untuk warga agar bisa mengasah keterampilan dalam menulis. “Aku pengen beasiswa liputan untuk warga. Kami membantu pematangan ide dan penajaman liputan,” tuturnya.

Pada 2016 BaleBengong masuk dalam nominasi The Best Online Activism (The BOBs) kategori media jurnalisme warga. Selain BaleBengong, wakil dari Indonesia dalam ajang tersebut adalah WatchDoc di kategori Arts and Culture. Ada juga Rumah Pemilu di kategori Social Change. Dan, Internet Sehat kategori Tech for Good. “BaleBengong punya pengalaman perintis di Indonesia dikelola dengan nirlaba, semangat ngayah (sukarela),” ujar Anton.

 Anugerah Jurnalisme Warga 2017 bertema Bhinneka Tunggal Media, merayakan keberagaman melalui media jurnalisme warga. Penganugerahan tahun ini dilaksanakan bersama 12 media jurnalisme warga dan komunitas di Indonesia. Media-media tersebut, yaitu Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (NTB), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (Bandung), Kilas Jambi (Jambi-Sumatera), Tatkala (Buleleng-Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung-Bali), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung).

Karya para peserta Anugerah Jurnalisme Warga 2017 dimuat dalam 12 media yang berpartisipasi tersebut. Kemudian dipilih satu karya terbaik dari empat kategori, yaitu tulisan, foto, ilustrasi, dan video. Namun pada, tahun ini tidak ada satu pun karya video yang ikut dalam Anugerah Jurnalisme Warga.

Rangkaian acara Anugerah Jurnalisme Warga 2017 diisi dengan kegiatan diskusi bertema Merayakan Keberagaman Ekspresi dan Melindungi Privasi. Diskusi tersebut diisi oleh peneliti lontar Sugi Lanus, aktivis komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Sofia Dinata, dan perwakilan ICT Watch Dewi Widyaningrum.

Adapun penganugerahan dibalut dalam pementasan seni pertunjukan dari Teater Kalangan. Pementasan lima dramawan muda itu melibatkan penonton dalam adegan banjir informasi, kecanduan gadget, dan perubahan perilaku warganet. Malam Anugerah Jurnalisme Warga ditutup oleh penampilan trio folk asal Bali, yaitu grup musik Nosstress.

Sumber: Tempo