Facebook Kalah dalam Perang terhadap Berita Palsu

Jurnalis yang bekerja untuk Facebook mengatakan alat pengecekan fakta media sosial tersebut telah gagal dan Facebook tersebut telah melakukan eksploitasi terhadap mereka untuk kampanye public relation.

Beberapa fact checker yang bekerja untuk organisasi berita independen dan bermitra dengan Facebook mengatakan bahwa mereka takut hubungan mereka dengan Facebook, beberapa di antaranya dibayar telah menciptakan konflik kepentingan sehingga semakin sulit bagi gerai berita untuk mencermati dan mengkritik peran Facebook dalam menyebarkan informasi yang keliru.

Para jurnalis tersebut juga menyesalkan bahwa Facebook telah menolak untuk mengungkapkan data tentang upaya mereka untuk menghentikan penyebaran berita palsu tersebut. Jurnalis mengatakan hal tersebut satu tahun setelah Facebook meluncurkan kolaborasi sebagai tanggapan atas kemarahan dan tuduhan bahwa Facebook telah mempromosikan berita dan propaganda palsu selama pemilihan presiden AS.

Facebook telah mengungkapkan bahwa pihaknya memfasilitasi upaya Rusia untuk mengganggu politik AS, yang memungkinkan iklan politik dan propaganda politik yang memecah-belah pemilih yang bisa mencapai 126 juta orang Amerika.

Menurut salah seorang jurnalis, ia merasa seperti tidak bekerja sama sekali. Informasi palsu masih viral dan menyebar dengan cepat. Menurutnya, sangat sulit untuk meminta pertanggung jawaban Facebook. Mereka menganggap para jurnalis melakukan pekerjaan mereka untuk Facebook. Facebook memiliki masalah besar, dan mereka mengandalkan organisasi lain untuk membersihkan Facebook dari masalah tersebut.

Facebook mengumumkan banyak hal pada bulan Desember yang lalu bahwa mereka bermitra dengan fact checker pihak ketiga, termasuk Associated Press, Snopes, ABC News, PolitiFact dan FactCheck.org untuk menandai berita palsu secara publik sehingga sebuah tag yang menyatakan sengketa akan memperingatkan pengguna tentang berbagi konten salah. Sebuah ulasan Guardian tahun ini menemukan bahwa pemeriksaan fakta tampaknya sebagian besar tidak efektif dan bahwa tag sengketa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saat ini, beberapa pemeriksa fakta mengemukakan kekhawatiran, dengan mengatakan bahwa kurangnya statistik internal mengenai pekerjaan mereka telah menghambat proyek dan tidak jelas apakah Facebook menangani penyebaran propaganda secara serius.

Sumber pengecekan fakta lainnya mengatakan jarang melihat pengecekan fakta benar-benar mengarah pada sebuah tag sengketa di Facebook sehingga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana alat tersebut berfungsi. Fact checker mengatakan bahwa mereka memiliki pertanyaan tentang seberapa sering tag ditempatkan pada artikel, efek apa yang mereka dapatkan pada konten dan situs mana yang paling sering ditargetkan, namun Facebook belum memberikan informasi.

Sumber: The Guardian