Postingan Facebook yang Didukung Rusia Capai 126 Juta Orang Amerika

Facebook mengatakan bahwa konten Facebook yang didukung Rusia dan diposkan di Facebook berhasil mencapai 126 juta orang Amerika di Facebook selama dan setelah pemilihan presiden AS tahun 2016. Facebook percaya sebanyak 120 halaman palsu yang didukung Rusia menghasilkan 80.000 postingan yang diterima oleh 29 juta orang Amerika secara langsung, namun mencapai audien yang jauh lebih besar karena dibagi, di-LIKE,  dan diikuti.

Facebook berencana untuk mengungkapkan jumlah tersebut ke komite peradilan Senat. Kesaksian raksasa teknologi tersebut membuat perkembangan dramatis dalam penyelidikan campur tangan Rusia dalam pemilihan oleh penasihat khusus, Robert Mueller dengan tiga dakwaan, termasuk dua ajudan teratas kampanye Trump.

Dalam perkembangan mengejutkan di Washington, George Papadopolous mantan penasihat kebijakan luar negeri  dinyatakan telah mengaku bersalah awal bulan ini karena berbohong kepada penyidik ​​FBI atas kontaknya dengan dua orang yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Rusia tahun lalu. Sementara itu, mantan manajer kampanye Trump, Paul Manafort dan rekan bisnisnya Rick Gates, mengaku tidak bersalah atas dakwaan pencucian uang, penghindaran pajak, kegagalan untuk mendaftar sebagai agen untuk kepentingan asing dan persekongkolan untuk menipu pemerintah AS.

Setelah muncul di hadapan komite yudisial pada hari Selasa ini, perwakilan Facebook, Google dan Twitter akan bersaksi di hadapan komite Senate and House intelligence dalam audiensi publik berturut-turut pada hari Rabu. Kedua panel intelijen tersebut melakukan penyelidikan terpisah terhadap campur tangan Rusia dalam pemilihan AS.

Colin Stretch, pengacara Facebook akan menjelaskan bahwa Russia’s Internet Research Agency memposting materi tersebut antara tahun 2015 dan 2017. Pos-pos tersebut menyebar luas, walaupun banyak dari 126 juta orang tersebut mungkin tidak benar-benar melihat materi tersebut. Meskipun 126 juta orang setara dengan sekitar setengah dari orang Amerika yang berhak memilih, Facebook untuk mengecilkan signifikansi audiensi ke Kongres.

Elliot Schrage, wakil presiden kebijakan dan komunikasi Facebook mengatakan pada tanggal 2 Oktober bahwa iklan tersebut tampaknya berfokus pada pesan sosial dan politik yang memecah-belah melintasi spektrum ideologis, menyentuh topik mulai dari isu LGBT sampai isu ras, imigrasi hingga kepemilikan senjata. Twitter dan Google juga telah menyampaikan kesaksian kepada anggota parlemen AS.

Sumber: The Guardian