YouTube Dituduh Melakukan Kekerasan terhadap Anak-anak

YouTube dituduh telah melakukan kekerasan infrastruktur terhadap anak-anak karena perannya dalam menciptakan sejumlah besar konten berkualitas rendah dan mengganggu yang ditujukan untuk siswa pra-sekolah.

James Bridle, seorang seniman dan penulis yang berfokus pada kampanye teknologi mendokumentasikan bagaimana kurasi algoritmik YouTube sehingga mendorong sejumlah besar pemirsa kepada konten yang dibuat murni untuk memenuhi algoritma tersebut semaksimal mungkin.

Bridle menyoroti video BURIED ALIVE Outdoor Playground Finger Family Song Nursery Rhymes Animation Education Learning Video yang merupakan mix dari model karakter 3D berkualitas rendah, kekerasan, sajak anak-anak dan surealisme.

Menurutnya video tersebut dimanapun mereka dibuat, betapapun mereka dibuat, dan apapun niat sadar mereka (yaitu mengumpulkan pendapatan iklan) memberi makan pada sistem yang secara sadar bermaksud menampilkan video kepada anak-anak untuk mendapatkan keuntungan. Hasil yang tidak disengaja dan muncul dari video tersebut ada di mana-mana.

YouTube mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa situs utamanya secara eksplisit untuk pengguna berusia 13 tahun ke atas. YouTube selalu berusaha memperbaiki pengalaman YouTube untuk semua pengguna dan meminta komunitasnya untuk menandai video apa pun yang menurut mereka mungkin melanggar pedoman komunitas YouTube.

YouTube menambahkan, selain itu, beberapa bulan yang lalu, YouTube memperbarui kebijakan periklanan untuk secara jelas menunjukkan bahwa video yang menggambarkan karakter hiburan keluarga yang terlibat dalam perilaku tidak pantas tidak memenuhi syarat untuk beriklan di YouTube. YouTube berharap dengan menghapus kemampuan meraih keuntungan/pendapatan dari video semacam itu akan membatasi motivasi untuk membuatnya.

Banyak video yang lebih mengganggu yang dicontohkan oleh Bridle tidak tersedia di aplikasi YouTube untuk anak-anak di bawah usia 13 tahun, yaitu YouTube Kids. Namun Bridle menekankan bahwa bahkan beberapa saluran terbesar di YouTube juga patut dipertanyakan terkait dengan konten video mereka untuk anak-anak.

Sumber: The Guardian