Kurangnya Staf IT Membuat Perusahaan Diserang Hacker

Para profesional di bidang cybersecurity meminta pendidikan dan skema magang yang lebih baik setelah adanya fakta bahwa kekurangan staf di sektor IT membuat perusahaan terkena serangan hacker. Menurut survei agen perekrutan baru-baru ini, 81% mengharapkan kenaikan permintaan staf keamanan digital, namun hanya 16% yang melihat bahwa permintaan tersebut akan terpenuhi.

Tim Holman, chief executive konsultan keamanan dunia maya 2-Sec mengatakan bahwa permintaan terhadap staf IT melambung tinggi. Menurutnya, biaya menangani masalah cyber akan naik, premi asuransi akan naik, harga membersihkan (serangan hacker) akan naik.

Sejumlah serangan cyber berprofil tinggi pada 2017 telah memicu permintaan untuk para profesional IT. Pada bulan Maret, perusahaan telepon seluler Three mengalami pelanggaran serius yang membahayakan 200.000 data pelanggan. Pada bulan April, 250.000 catatan pengguna dicuri termasuk rincian rekening bank, nomor telepon, dan alamat email dari perusahaan pinjaman gaji Wonga. Namun, serangan ransomware Wannacry pada sistem IT NHS pada bulan Mei menunjukkan bahwa keamanan maya bukan hanya masalah bagi bisnis. Sepertiga dari trust NHS dilaporkan telah terinfeksi oleh ransomware tahun ini.

Menurut Adam Thilthorpe dari Chartered Institute for IT kurangnya para profesional terampil yang mampu menangani kebutuhan cybercrime harus segera ditangani. Ia menambahkan bahwa ia telah menyuarakan keprihatinan tersebut untuk beberapa waktu yang lalu.

Kurangnya staf IT ini tentu sebuah masalah yang patut menjadi perhatian setiap perusahaan. Dengan serangan hacker yang terus meningkat, tidak pelak lagi perusahaan harus segera berbenah, terutama bidang IT-nya untuk membendung serangan tersebut. Namun perusahaan dihadapkan pada masalah kurangnya sumber daya manusia terampil di bidang ini. Untuk itu, kerja sama antara bisnis, pemerintah dan institusi pendidikan sangat dibutuhkan agar kebutuhan terhadap staf IT yang terampil segera terpenuhi.

Sumber: The Guardian