Media Sosial Memecah-Belah Masyarakat

Seorang mantan eksekutif Facebook mengatakan bahwa dia merasakan rasa bersalah yang luar biasa atas kontribusinya dalam membangun Facebook yang merobek struktur sosial dari masyarakat yang telah bekerja selama ini.

Chamath Palihapitiya yang merupakan wakil presiden untuk pertumbuhan pengguna di Facebook sebelum dia meninggalkan Facebook pada tahun 2011 mengatakan bahwa umpan balik jangka pendek berbasis dopamin  yang diciptakan Facebook telah menghancurkan bagaimana masyarakat bekerja. Tidak ada wacana sipil, tidak ada kerja sama, yang ada malah sebaliknya misinformasi, ketidakpercayaan.

Komentar tersebut yang dibuat pada sebuah acara di Stanford Business School pada bulan November, baru saja muncul oleh situs teknologi the Verge tiga hari yang lalu. Menurutnya, masalah Facebook bukan soal iklan Rusia, melainkan masalah global. Facebook mengikis fondasi inti tentang bagaimana orang berperilaku antara satu sama lain.

Komentar Palihapitiya bulan lalu dibuat sehari setelah presiden pendiri Facebook, Sean Parker, mengkritik cara Facebook mengeksploitasi kerentanan dalam psikologi manusia dengan menciptakan umpan balik validasi sosial. Parker mengatakan bahwa dia  merupakan penentang penggunaan media sosial, sebuah sikap yang digaungkan oleh Palihapitaya yang mengatakan bahwa dia sekarang berharap untuk menggunakan uang yang dia hasilkan di Facebook untuk melakukan kebaikan di dunia.

Perusahaan media sosial menghadapi pengawasan yang ketat selama setahun terakhir karena para kritikus semakin menghubungkan pertumbuhan perpecahan politik di seluruh dunia ke beberapa platform yang mendominasi wacana online. Banyak pengamat menghubungkan hasil tak terduga dari pemilihan presiden AS 2016 dan referendum Brexit sebagian karena echo chmaber yang dibuat oleh algoritma Facebook, serta berkembangnya berita palsu, persekongkolan konspirasi, dan propaganda di samping sumber berita yang sah di news feed Facebook.

Sumber: The Guardian