Pengguna Internet Indonesia Mudah Terhasut Berita Bohong

Pengguna internet Indonesia semakin banyak. Berdasarkan data, dari 262 juta penduduk Indonesia, sebanyak 132 juta orang merupakan pengguna internet. Data lain menunjukkan sebanyak 62 persen pengguna smartphone mengakses media sosial rata-rata 2,35 jam per hari. Namun sayangnya pengguna yang sangat banyak tersebut mudah terhasut berita bohong.

Menurut Dirjen Aptika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan, Indonesia termasuk salah satu negara di mana masyarakatnya paling mudah percaya dengan konten yang tersebar di dunia maya. Hal tersebut otomatis menjadi tantangan utama bagi Kemkominfo untuk meningkatkan kesadaran pengguna internet akan banyaknya konten yang marak di internet.

Semmy juga merujuk pada data riset Centre for International Governance Innovation (CIGI) IPSOS 2017 yang mengungkap Indonesia menduduki peringkat ke-7 dalam daftar pengguna internet yang paling mudah terhasut dengan berita bohong. Jika dikaji, tingkatnya bisa mencapai 65 persen.

Menurut Semmy, informasi yang diakses di internet tersebut ditelan mentah-mentah (oleh pengguna internet Indonesia). Jika dirujuk lebih dalam, dari 65% tersebut, 15 persen pengguna internet Indonesia sangat percaya dengan konten yang mereka akses, sedangkan 50 persen percaya bahwa yang ada di internet adalah benar.

Semmy juga membandingkan data tersebut dengan pengguna internet di Amerika Serikat (AS). Yang mengagetkan, ternyata tingkat kepercayaan pengguna internet di Negeri Paman Sam tersebut sama dengan yang ada di Inddonesia.

Di Amerika Serikat, sebanyak 53% pengguna internet percaya dengan internet. Hal ini tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Sementara jika dibandingkan dengan Jepang dan Perancis, AS dan Indonesia kalah jauh. Di Jepang dan Perancis lebih rendah, cuma 43 persen yang percaya, kalau di Jepang 32 persen yang percaya.

Hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat literasi digital sebuah negara, semakin besar pula potensi pengguna yang tidak mudah percaya dengan konten yang diakses. Pengguna harus memverifikasi sumber informasi, siapa yang menyebar dan sumbernya. Jangan percaya apa yang dimuat di media abal-abal dan jangan sampai ditelan mentah-mentah. Intinya, setiap orang harus memiliki pemikiran kritis dalam mengakses konten supaya bisa mencari referensi yang benar dan akurat.

Sumber: Liputan 6