Facebook Lakukan Perubahan terhadap News Feed

Hari Kamis minggu lalu, Mark Zuckerberg CEO Facebook mengumumkan perombakan besar algoritma News Feed Facebook yang akan memprioritaskan interaksi sosial yang bermakna dibandingkan dengan konten yang relevan. Pengumuman tersebut muncul satu minggu setelah Zuckerberg berjanji untuk menghabiskan tahun 2018 untuk memastikan bahwa waktu yang dihabiskan di Facebook adalah waktu yang dihabiskan dengan baik.

Dengan perubahan tersebut, Facebook tidak lagi memprioritaskan video, foto, dan pos yang dibagikan oleh bisnis dan media yang oleh Zuckerberg disebut konten publik dan mendukung konten yang dihasilkan oleh teman dan keluarga pengguna.

Keseimbangan dari apa yang ada di News Feed telah beralih dari hal yang paling penting yang dapat dilakukan Facebook, yaitu membantu pengguna terhubung satu sama lain. Facebook merasa bertanggung jawab untuk memastikan layanannya tidak hanya menyenangkan untuk digunakan, tetapi juga bagus untuk kesejahteraan masyarakat.

Perubahan yang dilakukan tersebut tampaknya dirancang untuk menenangkan beberapa pusaran kritik yang diterima Facebook tahun lalu. Para kritikus menuduh Facebook telah mengumpulkan pengguna dalam gelembung filter, memfasilitasi proliferasi informasi yang keliru, yang memungkinkan campur tangan asing dalam pemilihan nasional, dan eksploitasi psikologi manusia untuk keuntungan.

Facebook lambat untuk mengakui kekhawatiran tersebut di mana  Zuckerberg menolak gagasan bahwa propaganda dan berita palsu memengaruhi pemilihan presiden AS. Namun Facebook kemudian mengubah sikapnya pada musim gugur 2017 dengan mengakui bahwa sebuah operasi pengaruh Rusia telah membeli iklan seharga 100.000 ribu dollar AS yang mempromosikan konten yang memecah belah secara politis menjelang pemilihan umum.

Setelah beberapa orang dalam Facebook mulai berbicara tentang sifat adiktif media sosial dan dampak buruk pada masyarakat, perusahaan tersebut mengakui untuk pertama kalinya di bulan Desember bahwa konsumsi pasif media sosial dapat membahayakan kesehatan mental pengguna.

Sumber: The Guardian