AS dan Inggris Salahkan Rusia atas Serangan Siber NotPetya

Pemerintah AS dan Inggris secara terbuka menyalahkan Rusia atas serangan cyber yang melumpuhkan tahun lalu yang menargetkan Ukraina dan menyebar ke seluruh dunia. Sarah Sanders, sekretaris pers Gedung Putih, mengatakan bahwa serangan ransomware NotPetya pada bulan Juni 2017 merupakan bagian dari upaya Kremlin untuk terus mengacaukan Ukraina dan menunjukkan keterlibatan Rusia yang lebih dalam dalam konflik yang sedang berlangsung.

Sanders menambahkan bahwa serangan tersebut juga merupakan serangan cyber sembrono dan sembarangan yang berakibat adanya konsekuensi internasional. Sanders mengatakan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan kerugian miliaran dolar AS.

Pernyataan tersebut muncul setelah sekretaris kementerian pertahanan Inggris, Gavin Williamson, menuduh pemerintah Rusia merongrong demokrasi dengan serangan tersebut, yang terutama menargetkan sektor keuangan, energi dan pemerintah Ukraina sebelum menyebar ke seluruh dunia. Tuduhan publik dua pemerintah yang tidak biasa tersebut menggemakan kesimpulan yang telah diberikan oleh banyak pakar keamanan cyber di sektor swasta.

Ukraina telah mengalami konflik dengan kelompok separatis Kremlin yang didukung sejak Rusia mencaplok Crimea pada 2014. Williamson mengatakan bahwa Inggris telah memasuki era perang yang baru di mana perpecahan yang destruktif dan mematikan dari kekuatan militer konvensional dan serangan cyber jahat.

Rusia merobek buku aturan tersebut dengan merongrong demokrasi, menghancurkan mata pencarian dengan menargetkan infrastruktur penting dan informasi mengenai senjata. Inggris harus siap untuk mengatasi ancaman dan mengintensifkan cara melawan ancama tersebut.

Rusia telah menolak tanggung jawab atas serangan tersebut, yang diperkirakan menimbulkan kerugian lebih dari 1,2 miliar dollar AS. Rusia mengklaim bahwa bisnis Rusia termasuk di antara yang menjadi korban serangan  NotPetya.

Sumber: The Guardian