Polda Metro Ungkap Jaringan Prostitusi Anak melalui Twitter

Polda Metro Jaya pada bulan September tahun lalu mengungkap dan menangkap para pelaku jaringan pornografi anak online yang menjual gambar dan video porno melalui akun Twitter @VGKSale.

Tiga anggota jaringan prostitusi anak tersebut yang diidentifikasi sebagai Yul, 19, Her, 30, dan Ik, 30, ditangkap di tiga lokasi yang berbeda. Direktur Peradilan Pidana Polda Metro Adi Deriyan mengatakan bahwa para pelaku adalah korban pelecehan seksual selama masa muda mereka. Mereka adalah korban. Polda Metro akan menawarkan terapi.

Menurut polisi, ketiga tersangka tersebut menggembar-gemborkan gambar porno dan video anak di Twitter. Konten porno sebagian besar menunjukkan laki-laki dewasa berhubungan seks dengan anak-anak. Pembeli akan membayar dengan mentransfer uang melalui ATM atau dengan imbalan pulsa telepon. Dalam satu transaksi, pembeli bisa mendapatkan 30-50 gambar atau video porno. Setelah menerima pembayaran, para pelaku akan berbagi konten melalui WhatsApp atau layanan pesan Telegram.

Polisi menambahkan bahwa seorang pelaku mengaku telah melakukan transaksi dengan 150 orang. Polisi telah menyita uang sebanyak Rp10 juta dan 750.000 konten pronografi anak. Transaksi tersebut melibatkan total 500.000 gambar atau video.

Menurut polisi, para pelaku berafiliasi dengan jaringan pornografi anak di 49 negara. Mereka mengaku mendapatkan konten porno setelah bergabung dengan grup chatting di WhatsApp dan Telegram, dan lainnya. Penangkapan para pelaku di jaringan pornografi anak tersebut dilakukan oleh Unit Kejahatan Cyber ​​Polda Metro bekerja sama dengan Biro Investigasi Federal (FBI) AS.

Ketua Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Susanto melihat kecenderungan pergeseran ke arah pelecehan seksual anak. Dulu korban pornografi anak adalah perempuan, namun sekarang, anak laki-laki cenderung menjadi sasaran pelecehan seksual.

Meskipun peristiwa ini sudah agak berlalu, namun kasus-kasus pornografi anak biasanya merupakan fenomena gunung es. Artinya yang diungkap yang puncak-puncaknya saja atau yang berhasil diendus aparat, namun kasus lainnya sangat banyak di bawah permukaan. Untuk itu sangat penting untuk terus melakukan penindakan terhadap kasus pornografi anak ini.

Sumber: Tempo English

Sumber Foto: Rappler