Ratusan Mahasiswa Palu Siap Perangi Hoax

Sebanyak 285 mahasiswa Palu bersiap ikut memerangi kabar palsu atau hoax. Tekad kesiapan itu dicanangkan dalam acara Tempo Goes to Campus yang berlangsung di IT Center, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat, 20 April 2018.  “Sekarang ini banyak beredar kabar hoax seperti ada informasi kecelakaan, belum diverifikasi sudah langsung disebar. Ini waktunya kita memerangi kabar hoax,” kata Irnawati Kusbin, mahasiswi Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako di sela-sela acara.

Irnawati menuturkan, menjelang tahun politik, kabar kibul menyebar dengan cepat. Soal ganti presiden pun menjadi isu yang panas. “Yang lagi viral sekarang di Sulawesi Tengah sekarang ada hoax, puluhan tentara Cina masuk ke Indonesia, padahal ini jelas kabar bohong,” katanya.

Menurut dia, mahasiswa harus ikut berperan dalam memerangi hoax. “Jangan sampai mahasiswa justru menjadi pelaku penyebar kabar hoax.”

Acara Tempo Goes to Campus yang  menggunakan tagar #LawanKabarKibul ini berlangsung di Palu dan diisi oleh pembicara dari Tempo, Yosep Suprayogi; Denden Sofiudin dari ICT Watch, dan Nabila Inaya dari Yukepo.com.  Mahasiswa belajar cara memerangi kabar hoax.

 Yosep mengajak mahasiwa agar memverifikasi setiap data yang masuk dengan menerapkan 5 W+1H. “Gunakan 5 W+1H setiap kali kamu mendapatkan informasi untuk mengecek kebenarannya.”

Adapun Denden meminta ada pembatasan usia dalam penggunaan media sosial. “Di bawah usia 13 tahun, seharusnya tidak boleh mempunyai media sosial,” ujarnya. Ia mencontohkan kejahatan pedofilia di internet, ketika seorang dokter gadungan di Surabaya memperdaya anak-anak kecil agar mengirimkan foto-foto tanpa busana kepadanya pada 2014. “Oleh dokter gadungan itu, foto-foto itu disebar di komunitas pedofil dunia di Facebook,” kata Denden.

Pembicara dari Yukepo.com, Nabila Inaya mengajari cara membedakan berita hoax atau bukan. “Lakukan crosscheck dengan cara mengecek keaslian gambar, keyword dan sumber berita tersebut,” katanya. Ia pun menunjukkan aplikasi yang bisa diunggah di playstore cara mengecek fakta.

Sumber: Tempo