Masyarakat Terapkan READI Lawan Hoaks

Sebaran hoax di internet sejauh ini cukup masif sehingga mendorong berbagai pihak untuk ikut serta menanggulangi sebaran hoax tersebut. Dalam Workshop Trusted Media Summit 2018, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementeria Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti engajak semua elemen masyarakat, terutama media dan komunitas anti hoax untuk menerapkan nilai-nilai READI dalam melawan hoax. 

READI merupakan akronim dari Responsibility (tanggung jawab), Empathy (empati), Authenticity (otentik), Discernment (kearifan) dan Integrity (integritas). Menurut Niken banyak masyarakat Indonesia yang mudah menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi. Hal itu disebabkan adanya pola komunikasi 10 to 90 dimana hanya 10% yang memproduksi informasi sementara 90% yang lainnya tanpa dibayar langsung menyebarkan. Lihat judul langsung kirim atau sebar.

Hal itu disebabkan oleh literasi masyarakat yang masih kurang. Kalau yang 10% itu berita bohong, manipulasi data, intoleransi, bullying, terorisme dan radikalisme, apa yang akan terjadi dengan 90% masyarakat yang belum terliterasi sepenuhnya.  Jadi hoax atau berita palsu saat ini bisa menjadi senjata orang tertentu.

Menurut Niken upaya memerangi hoax bukan tanggung jawab pemerintah saja. Oleh karena itu ia sangat mengapreasi upaya media dan komunitas bersama melawan penyebaran hoax di Indonesia.  Ia memerikan apresiasi sangat tinggi, sangat luar biasa atas usaha dari teman-teman untuk melawan hoaks. Ia mengajak seluruh perwakilan organisasi, asosiasi dan komunitas untuk berkolaborasi bersama dan bergabung dengan portal stophoax.id.  Semua itu dalam pandangan Dirjen Niken ditujukan untuk melawan penyebaran hoaks serta  menyehatkan dunia maya supaya paralel dengan dunia nyata.

Sumber: Kominfo