Facebook Kesulitan untuk Mengakhiri Ujaran Kebencian di Myanmar

Penyelidikan yang dilakukan oleh Reuters menunjukkan bahwa upaya Facebook untuk menindak ujaran kebencian di Myanmar yang telah berkontribusi terhadap serangan kekerasan terhadap populasi minoritas Muslim tidak memadai.

Facebook telah memperoleh peringatan dari kelompok hak asasi manusia dan peneliti bahwa platformnya digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah dan mempromosikan kebencian terhadap Muslim, terutama Rohingya, sejak tahun 2013. Karena Facebook telah meningkatkan basis penggunanya di negara tersebut menjadi 18 juta, ujaran kebencian meledak, tetapi Facebook terlalu lambat untuk menanggapi krisis yang sedang berkembang.

Reuters dan Pusat Hak Asasi Manusia di UC Berkeley School of Law menemukan lebih dari 1.000 contoh postingan, komentar, gambar dan video yang menyerang Muslim Myanmar termasuk beberapa materi yang telah ada di situs itu selama enam tahun, hidup di Facebook sampai mereka melaporkannya ke Facebook minggu lalu.

Satu pos, yang diterbitkan pada bulan Desember 2013, menampilkan gambar makanan bergaya Rohingya dan pesan:

“We must fight them the way Hitler did the Jews, damn kalars!”

Postingan ini menggunakan istilah yang merendahkan bagi minoritas Rohingya. Pengguna lain mengomentari postingan blog yang menggambarkan sebuah perahu penuh pengungsi Rohingya tiba di Indonesia:

“Pour fuel and set fire so that they can meet Allah faster.”

Postingan lain menggunakan bahasa yang tidak manusiawi, menggambarkan Rohingya atau Muslim lainnya sebagai anjing, pemerkosa, dan belatung dan menyerukan agar mereka ditembak atau dimusnahkan. Ada juga gambar-gambar porno anti-Muslim. Standar komunitas Facebook melarang pornografi dan posting yang menyerang kelompok etnis dengan ucapan kekerasan atau tidak manusiawi atau membandingkannya dengan hewan.

Pada bulan April, tak lama setelah penyelidik PBB mengecam peran Facebook sebagai kendaraan untuk pemusnahan, pertikaian dan konflik di Myanmar, Mark Zuckerberg mengatakan kepada para senator AS bahwa Facebook mempekerjakan puluhan lebih moderator konten berbahasa Burma untuk meninjau ujaran kebencian.

Bagi banyak orang di Myanmar, Facebook adalah internet. Ini adalah salah satu cara utama orang mendapatkan berita dan hiburan mereka secara online serta olahpesan. Pertumbuhannya telah dipicu oleh fakta bahwa Facebook digratiskan oleh beberapa operator ponsel di Myanmar yang berarti orang tidak perlu membayar biaya data untuk menggunakannya.

Facebook biasanya bergantung pada pengguna yang melaporkan ujaran kebencian, tetapi karena kekhasan teknis dalam cara sebagian besar situs web Burma membuat font mereka, sistem Facecook mengalami kesulitan untuk menafsirkan teks Burma. Selain itu, alat pelaporan Facebook termasuk teks dalam menu drop-down pada postingan tertentu baru diterjemahkan ke dalam bahasa Burma pada akhir April dan awal Mei tahun ini. Sebelumnya, siapa pun yang ingin melaporkan pos harus melakukannya dalam bahasa Inggris.

Facebook tidak memiliki satupun karyawan pun di Myanmar, di mana mereka memiliki 18 juta pengguna kurang lebih sama jumlah pengguna Facebook di Spanyol. Facebook memonitor ujaran kebencian melalui kontraktor di Kuala Lumpur, dalam operasi rahasia dengan nama sandi  Project Honey Badger. Operasi ini memiliki sekitar 60 orang yang meninjau konten yang dilaporkan yang diposting di Myanmar.

Pada bulan Juli, Facebook mengumumkan kebijakan baru untuk menghapus informasi yang salah yang digunakan untuk menghasut kekerasan fisik, dimulai dengan Sri Lanka di mana kekerasan massa terhadap Muslim juga telah dipicu oleh postingan di Facebook. Facebook juga mengatakan akan menggulirkan kebijakan ini ke Myanmar.

Facebook telah mengidentifikasi dan menghapus beberapa tokoh dan kelompok kebencian dari platform mereka, termasuk biarawan Buddha ekstrim Ashin Wirathu, Parmaukkha dan Thuseitta, yang dikenal karena ujaran kebencian terhadap Rohingya. Facebook juga telah menghapus halaman yang terkait dengan kelompok nasionalis yang dipimpin oleh biarawan Ma Ba Tha, yaitu the Association for the Protection of Race and Religion.

Dalam postingan blog yang diterbitkan 12 jam setelah penyelidikan Reuters, Facebook mengungkapkan bahwa pada kuartal kedua tahun 2018 Facebook secara proaktif mengidentifikasi (tidak lagi mengandalkan laporan pengguna) sekitar 52% konten yang dihapus karena ujaran kebencian di Myanmar. Postingan blog yang sama mengungkapkan bahwa Facebook akan menambah jumlah ahli bahasa Myanmar dari 40 hingga menjadi 60 orang.

Sumber: The Guardian