Facebook Dituduh Melakukan Diskriminasi Gender pada Iklan Pekerjaan

American Civil Liberties Union (ACLU) mengajukan keluhan kepada Komisi Persamaan Kesempatan Kerja AS (Equal Employment Opportunity Commission, EEOC) yang menyatakan bahwa sistem periklanan Facebook memungkinkan pengusaha untuk menargetkan iklan pekerjaan berdasarkan jenis kelamin, sebuha praktik yang menurut ACLU ilegal.

Secara khusus, keluhan tersebut mengacu pada tiga perempuan di negara bagian Ohio, Pennsylvania dan Illinois yang mana iklan mereka tidak ditampilkan untuk pekerjaan yang secara tradisional dianggap sebagai profesi yang didominasi laki-laki.

Keluhan tersebut menyoroti 10 perusahaan yang berbeda yang memasang iklan lowongan kerja di Facebook untuk berbagai pekerjaan seperti insinyur mekanik, roofer dan keamanan, tetapi menggunakan sistem penargetan jaringan sosial untuk mengontrol siapa yang melihat iklan. Dalam satu contoh, penargetan tersebut berarti satu pekerjaan dipromosikan untuk laki-laki yang berusia 25 hingga 35tahun, dan tinggal atau baru-baru ini ada di Philadelphia, Pennsylvania. Investigasi terpisah oleh ProPublica menemukan lebih banyak contoh yang menunjukkan pola yang sama.

Awal tahun ini, situs jurnalisme investigatif, ProPublica merilis alat yang dapat digunakan pembaca untuk mengumpulkan data pada iklan Facebook yang telah mereka lihat, dan mengirim informasi tersebut langsung ke ProPublica untuk analisis.

Dengan menggunakan metode tersebut ProPublica mengatakan bahwa mereka menemukan orang-orang yang ditargetkan secara khusus di lusinan kota di seluruh AS untuk pekerjaan pengemudi dengan Uber. Kesimpulan ini didasarkan pada 91 iklan yang ditempatkan oleh bagian perekrutan Uber, hanya satu yang ditargetkan khusus untuk perempuan, dengan tiga tidak menargetkan jenis kelamin tertentu. Sisanya dirancang untuk dilihat oleh laki-laki saja.

Meskipun menargetkan pengguna berdasarkan gender mungkin tampak relatif tidak berbahaya ketika menyangkut, misalnya, merek pakaian, melakukan hal tersebut untuk iklan lowongan pekerjaan mungkin melanggar hukum AS. Undang-undang Hak Sipil tahun 1964 secara khusus melarang diskriminasi terhadap seseorang karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaan. Undang-undang ini berlaku untuk setiap tahap pekerjaan, termasuk rekrutmen.

Galen Sherwin,dari the ACLU’s Women’s Rights Project mengatakan bahwa ketika pemberi kerja di bidang yang didominasi laki-laki mengiklankan pekerjaan mereka hanya untuk laki-laki, hal tersebut mencegah perempuan dari memasuki bidang-bidang tersebut.

Sumber: BBC

Sumber Foto: Gadget Hacks