Facebook Hapus Akun Palsu Terkait Iran

Facebook telah mengungkap dan menghapus puluhan akun dan halaman yang berasal dari Iran yang dimaksudkan untuk memprovokasi perpecahan di AS dan Inggris. Akun-akun yang diajukan sebagai penduduk AS dan Inggris tersebut sering mem-posting topik yang memecah-belah secara politik, termasuk hubungan ras, oposisi terhadap Donald Trump, dan imigrasi. Lebih dari satu juta pengguna Facebook telah terlibat dengan 82 halaman, grup dan akun yang diidentifikasi, sebagian besar di AS.

Nathaniel Gleicher Facebook’s head of cybersecurity policy mengatakan bahwa investigasi Facebook masih beberapa hari dan sementara ini Facebook tidak menemukan hubungan dengan pemerintah Iran. Facebook tidak dapat mengatakan dengan pasti siapa yang bertanggung jawab.

Events juga diidentifikasi sebagai bagian dari kampanye, tetapi Gliecher tidak memberikan informasi tambahan tentang mereka, termasuk apakah mereka benar-benar terjadi atau tidak. Dia mengatakan tim masih menyelidiki detail dan bahwa ketika Facebook memiliki informasi lebih banyak mereka akan merilis informasi. Berdasarkan analisis Facebook dan apa yang telah dilihat sejauh ini, fokus utama operasi tersebut adalah mengirim pesan melalui halaman-halaman besar dan tidak terfokus pada peristiwa.

Nathaniel Gleicher menekankan bahwa menjelang pemilihan midterms 2018 di AS, tim investigasi Facebook bekerja keras untuk memastikan platform Facebook tidak digunakan sebagai alat untuk campur tangan asing. Facebook bekerja sama dengan pemerintah AS, dan telah melakukan kontak dengan penegak hukum, baik dengan satgas pengaruh asing di FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Pengungkapan ini merupakan pengungkapan berikutnya oleh Facebook terhadap akun palsu yang digunakan oleh aktor asing untuk memengaruhi opini Amerika. Pada bulan Juli, jejaring sosial tersebut menghapus 32 halaman dan akun dari Facebook dan Instagram, yang terkait denganagen Rusia. Sebulan kemudian, Facebook menghapus 652 akun dan halaman palsu yang dibuat sebagai bagian dari empat kampanye terpisah, yang ditemukan memiliki hubungan dengan Rusia dan Iran.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: The Verge