Google dan Facebook Diuntungkan dalam Berbagi Data Aplikasi Pihak Ketiga

Studi baru yang dilakukan oleh University of Oxford menunjukkan bahwa perusahaan seperti Google dan Facebook dapat memperoleh data dalam jumlah besar dari aplikasi pihak ketiga di smartphone pengguna.

Peneliti menganalisis kode dari 959.000 aplikasi di toko Google Play AS dan Inggris. Penelitian ini mengungkapkan bagaimana sejumlah besar dari aplikasi pihak ketiga tersebut dibentuk untuk mentransfer data ke perusahaan teknologi besar seperti Google, Facebook, dan Microsoft.

Studi ini menemukan bahwa 88 persen aplikasi pada akhirnya dapat menyerahkan data ke Alphabet, perusahaan induk Google. Hal ini menempatkan Google sebagai salah satu daftar calon penerima manfaat dari data aplikasi pihak ketiga. Daftarnya sebagai berikut:

  1. Alphabet: 88,44 persen.
  2. Facebook: 42,55 persen.
  3. Twitter: 33,88 persen.
  4. Verizon: 26,27 persen.
  5. Microsoft: 22,75 persen.
  6. Amazon: 17,91 persen.

Informasi yang dapat dibagikan melalui aplikasi pihak ketiga dapat mencakup hal-hal seperti usia, jenis kelamin, dan lokasi. Para peneliti mengatakan data semacam ini memungkinkan konstruksi profil rinci tentang individu yang dapat mencakup kesimpulan tentang kebiasaan berbelanja, kelas sosial-ekonomi atau kemungkinan pendapat politik.

Mereka menambahkan bahwa profil tersebut kemudian dapat digunakan untuk berbagai tujuan, dari iklan yang ditargetkan hingga pemberian skor kredit dan pesan kampanye politik yang ditargetkan. Penelitian tersebut mengatakan rata-rata aplikasi  dapat mentransfer data ke lima perusahaan pelacak, yang pada akhirnya bisa meneruskan data ke perusahaan seperti Google. Genre aplikasi lebih bersifat pelacakan daripada yang lain.

Secara khusus, aplikasi berita dan aplikasi yang ditargetkan pada anak-anak tampaknya berada di antara yang terburuk dalam hal jumlah pelacak pihak ketiga yang terkait dengan mereka. Aplikasi yang ditargetkan pada anak-anak menimbulkan beberapa masalah hukum yang sangat pelik seputar pelacakan data. Beberapa praktik yang mungkin dilibatkan seperti memungkinkan pembuatan profil anak-anak tanpa berusaha mendapatkan izin orang tua yang mungkin benar-benar melanggar hukum.

Google menantang studi Oxford tersebut. Google memperdebatkan metodologi yang digunakan oleh para peneliti Oxford. Google tidak setuju dengan metodologi dan temuan studi ini. Penelitian tersebut salah mengartikan layanan fungsional biasa seperti crash reporting and analytics dan bagaimana aplikasi berbagi data untuk memberikan layanan tersebut.

Di Google, dan di Google Play, Google memiliki kebijakan dan panduan yang jelas tentang bagaimana pengembang dan aplikasi pihak ketiga dapat menangani data dan Google mengharuskan pengembang untuk transparan dan meminta izin pengguna. Jika sebuah aplikasi melanggar kebijakan Google mengambil tindakan.

Peneliti utama Ruben Binns menjawab bahwa mereka tidak mengklaim bahwa semua contoh pelacakan pihak ketiga tidak dapat dibenarkan, karena crash reporting and analytics adalah alat yang berguna untuk pengembang. Google menawarkan kemampuan pelacakan pihak ketiga untuk kedua tujuan. Namun, alat analitik mereka sering digunakan oleh pengembang untuk mengukur keefektifan iklan yang ditargetkan.

Sumber: Business Insider via Inc

Sumber Foto: Reuters