Internet Membungkam Suara Perempuan

 

Jika Anda berjalan melewati sebuah toko secara teratur dan kemudian menerima pesan tidak senonoh di Facebook dari akun toko tersebut, apa yang akan Anda lakukan?

Mantan anggota parlemen Partai Hijau Austria Sigrid Maurer ingin menuntut pemilik toko bir di Wina setelah menerima serangkaian pesan online yang kasar. Akan tetapi, Maurer tidak dapat menuntut untuk serangan seksual publik karena pesannya bersifat pribadi. Sebaliknya, ia mem-posting ulang pesan-pesan itu secara online, termasuk nama toko dan pemiliknya yang kemudian menggugatnya, dengan sukses, karena pencemaran nama baik. Sekarang ia mengajukan banding terhadap putusan di Wina yang berarti dia harus membayar lebih dari 4.000 euro karena dia tidak dapat membuktikan bahwa pemilik toko secara pribadi memposting pesan yang tidak senonoh. Pemilik toko tersebut berpendapat bahwa siapa pun di toko itu bisa mengakses akunnya dan mengirim pesan.

Kasus ini hanyalah satu contoh dari dampak mengerikan dari pelecehan online dan pelecehan seksual terhadap perempuan, terutama yang menonjol dalam kehidupan publik.

Perjuangan yang terus berlanjut untuk memerangi pelecehan terhadap perempuan, khususnya politisi perempuan, telah disorot di Inggris baru-baru ini. Anggota parlemen di komite  the women and equalities select  telah menyerukan undang-undang baru untuk mengkriminalisasi semua penciptaan dan distribusi gambar seksual non-konsensual atas dasar kurangnya persetujuan korban daripada motivasi pelaku. Yvette Cooper anggota parlemen dari partai Buruh juga menyerukan penyebutan anggota parlemen Konservatif yang menggunakan bahasa keji dan tidak manusiawi tentang perdana menteri.

Blandine Mollard, seorang peneliti untuk Institut Eropa untuk Kesetaraan Gender (EIGE) mengatakan bahwa dampak dari kasus semacam ini sangat buruk bagi perempuan muda yang akhirnya menyensor diri mereka sendiri dan mengambil lebih sedikit bagian dalam debat publik. EIGE dulu memiliki gagasan utopis bahwa di internet, setiap suara akan sama didengar dan dapat menciptakan dunia yang lebih adil.

Namun yang terjadi sebaliknya. Ia mengatakan ruang digital memperbesar norma-norma feminin dan maskulinitas tradisional. Wanita muda merasa tertekan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis, sementara tingkat maskulinitas beracun secara online sangat sulit untuk anak anak laki-laki dengan orientasi seksual yang berbeda yang takut diejek. Penelitian baru Mollard untuk EIGE menunjukkan 57% wanita muda dan 62% pria muda telah menyaksikan atau mengalami pelecehan online atau perkataan yang mendorong kebencian.

Warga negara Uni Eropa memiliki keterampilan digital dan akses online yang hampir sama, yaitu 93% anak laki-laki dan 92% anak perempuan berusia 16-24 menggunakan teknologi setiap hari. Akan tetapi ada perbedaan yang mencolok dalam kepercayaan digital mereka, dengan 73% anak laki-laki berusia 15-16 mengatakan mereka akan merasa nyaman menggunakan perangkat digital yang kurang familiar, dibandingkan dengan 49% anak perempuan pada usia yang sama.

Perempuan dan laki-laki muda juga berperilaku sangat berbeda secara online, dengan laki-laki mengambil bagian yang lebih tinggi dalam kegiatan publik seperti debat. Mereka juga lebih mungkin untuk memposting pendapat mereka tentang isu-isu sosial dan politik atau mengambil bagian dalam voting online. Ada semakin banyak bukti juga, bahwa wanita muda menyensor diri mereka sendiri untuk menghindari dihakimi secara kasar di internet.

Seorang gadis Swedia berusia 15 tahun dalam survei EIGE mengtakan bahwa dirinta terlalu takut untuk mengungkapkan pendapat secara online. Ia menyimpannya untuk dirinya sendiri karena ia tahu bahwa akan selalu ada seseorang di luar sana yang tidak akan menyukai apa yang ia posting. Gadis 15 tahun lainnya mengungkapkan pandangan yang sama, yaitu hal-hal yang dibenci adalah pendapat sendiri dan hal-hal seksual, jika seorang gadis.

EIGE menyerukan kesetaraan jender untuk menjadi bagian dari semua strategi dan kebijakan generasi muda Uni Eropa, khususnya kebijakan digital dan ingin lebih banyak penelitian tentang bagaimana internet dapat dibuat menjadi ruang yang lebih aman bagi para wanita dan pria muda. EIGE ingin kekerasan online diakui sebagai bentuk kekerasan berbasis gender dan dimasukkan dalam definisi Uni Eropa tentang cybercrime. Organisasi ini juga menyerukan lebih banyak dukungan bagi kaum muda, untuk membantu mereka menjadi sadar akan risiko online, dan mengatakan pria dewasa dan anak laki-laki perlu dilibatkan dalam upaya memerangi kekerasan terhadap anak perempuan dan perempuan di internet.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: Rappler