Facebook Promosikan Konspirasi Teori Anti-Soros untuk Melawan Kritik

Facebook kembali masuk ke dalam lubang untuk kesekian kalinya. Perusahaan media sosial terbesar di dunia tersebut  diduga menyewa firma riset politik untuk menyebarkan teori konspirasi tentang para pengkritiknya. Teori konspirasi tersebut dilaporkan melibatkan George Soros.

The New York Times memiliki laporan baru tentang bagaimana Facebook telah melakukan pengendalian kerusakan yang mereka alami karena berbagai kelalaian yang mereka buat di masa lalu terutama laporan tentang campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden 2016 dan skandal Cambridge Analytica.

The New York Times melaporkan bahwa sementara Mark Zuckerberg mengadakan tur permintaan maaf publik pada tahun lalu,  Sheryl Sandberg yang menjabat CTO dan tangan kanan Zuckerberg telah mengawasi kampanye lobi yang agresif untuk memerangi kritik Facebook, menggeser kemarahan publik kepada perusahaan pesaing dan menangkal regulasi yang merusak. Facebook mempekerjakan sebuah firma penelitian oposisi partai Republik untuk mendiskreditkan para aktivis pengunjuk rasa sebagian dengan menghubungkan mereka dengan pemodal liberal George Soros. Facebook juga melakukan hubungan bisnis, membujuk kelompok hak-hak sipil Yahudi untuk melemparkan beberapa kritik terhadap perusahaan sebagai anti-Semit.

Menurut laporan The New York Times Facebook menggunakan jasa Definers, sebuah perusahaan penelitian oposisi untuk menghadapi lawan yang lebih besar, seperti Mr Soros. Dokumen penelitian yang diedarkan oleh perusahaan Definers tersebut menggambarkan Soros sebagai kekuatan yang tidak diakui di belakang apa yang tampaknya menjadi gerakan anti-Facebook yang luas.

George Soros merupakan salah seorang yang dikirimi bom pipa yang dikirim ke rumahnya baru-baru ini. Presiden Donald Trump juga menyebut George Soros sebagai bagian dari konspirasi untuk membahayakan Amerika. Facebook tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar tentang laporan perekrutan para Definers untuk menyebarkan teori konspirasi anti-semit tersebut.

Sumber: The New York Times, Gizmodo

Sumber Foto: Gizmodo