Peran YouTube Trusted Flagger dalam Membersihkan YouTube ( Bagian 2 dan 2 Tulisan)

Sepanjang Februari hingga Oktober 2018, tim Trusted Flagger ICT Watch telah menandai 2.897 video di mana sebagian besar atau tepatnya 79% telah dihapus oleh YouTube. Tingkat keakuratan sebesar 79% ini terhitung sangat tinggi.

Dalam menandai video tertentu terdapat beberapa kategori pelanggaran sehingga video tersebut bisa dimasukkan ke kategori tersebut. Kategori tersebut adalah Violent or repulsive content, Harmful dangerous acts, Hateful or abusive content, Sexual content, Child abuse, Spam or misleading, Promote terrorism, dan Infringes my rights. Masing-masing kategori ini dibagi lagi menjadi item yang lebih detail kecuali kategori Child Abuse. Misalnya sexual content antara terdiri dari Nudity, Content involving minors, dan Other sexual content. Nantinya flagger akan menandai video tersebut sesuai dengan kategori dan kategori rincinya serta memberikan alasan mengapa konten video tersebut harus dihapus.

Pemberian alasan tambahan mengapa video tertentu harus dihapus merupakan bagian penting dalam menandai video di YouTube. Moderator YouTube sangat mempertimbangkan alasan ini untuk melakukan penghapusan video. Biasanya alasan tambahan mengapa video tertentu ditulis dalam bahasa Inggris, meskipun dalam Bahasa Indonesia tidak dilarang. Namun YouTube mengajurkannya dalam bahasa Inggris agar lebih cepat dimengerti. Jadi ketika menandai sebuah video kategori Child Abuse misalnya, Flagger perlu menerangkan dengan kata-kata yang mereka buat sendiri alasan tambahan di kolom yang telah disediakan. Tentu saja bagi flagger Indonesia yang tidak biasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris hal ini sebuah tantangan.

Penandaan video oleh Trusted Flagger bukan sesuatu yang memudah dan memakan banyak waktu. Sebuah video tertentu belum tentu dihapus oleh YouTube bila ditandai secara salah sehingga flagger harus sangat hati-hati dalam menandai video. YouTube tentu juga tidak ingin asal hapus video berdasarkan laporan flagger. Mereka akan memoderasi setiap laporan dan membandingkannya dengan CGL baru kemudian bisa diputuskan untuk dihapus atau mungkin cuma dibatasi pemirsanya dengan age restricted content.

Masalah age restricted ini merupakan hal yang cukup pelik. Video yang ditandai oleh trusted flagger kemungkinan dihapus, dibiarkan (tak ada tindakan) dan bisa dibatasi dengan age restricted. Video dengan tanda age restricted hanya bisa diakses oleh pengguna, biasanya 18 tahun ke atas dan harus login dengan nama mereka. Age restricted ini merupakan alat yang digunakan YouTube agar mereka yang belum cukup umur tidak bisa menonton video, misalnya kekerasan, pelecehan anak atau konten seksual. Namun alat ini juga sering disalahgunakan pengguna dengan mengupload konten seks, misalnya dan secara sadar memberikan batasan age restricted padahal kontennya secara jelas memperlihat adegan seks yang sebenarnya dilarang menurut CGL.

Penting sekali untuk diketahui bahwa Trusted Flagger bukanlah orang yang bisa memastikan sebuah video dihapus. Bahkan dalam kasus tertentu flagger berada dalam dilema karena sebuah video tertentu seharusnya dihapus karena melanggar CGL, namun YouTube hanya membatasi pemirsanya dengan age restricted. Kasus seperti ini sangat banyak terjadi, terutama menyangkut video dengan view banyak sekali bahkan juga pada kasus tertentu yang view-nya puluhan atau ratusan, juga tidak dihapus. Mungkin saja YouTube memiliki alasan lain sehingga video tersebut tidak dihapus.

Trusted flagger juga mengalami hal yang tidak semua orang bisa tahan untuk melihat. Misalnya video bunuh diri dengan cara gantung diri, terjun dari hotel atau terjun dari tower listrik atau tower masjid. Video bunuh diri ini jumlahnya banyak sekali di YouTube dan baru sebagian kecil saja yang ditandai dan kemudian dihapus.

Demikian juga dengan video penganiayaan bayi, anak kecil dan anak-anak usia SD, SMP dan SMA yan juga sangat banyak. Video bullying, perkelahian pelajar, tawuran dan perkelahian anak muda dan orang dewasa pun bertebaran. Perlu juga dicatat video spam yang hanya ingin mencari view dengan judul yang aneh dan juga video yang dipenuhi oleh iklan titipan dari uploader.

Trusted flagger juga harus informed dan mengetahui perkembangan yang terjadi, misalnya di media sosial. Misalnya ketika bencana, banyak sekali video hoax tentang bencana tersebut. Flagger harus siap untuk menandai video-video tersebut agar tidak menjadi populer dan dipercaya banyak orang.

Menjadi trusted flagger bisa jadi sebuah pekerjaan yang cukup berat dan menyita waktu. Setiap flagger ICT Watch harus menghabiskan waktu 8 jam dalam seminggu untuk menandai video di YouTube. Dalam waktu 8 jam tersebut,  seorang flagger hanya bisa menandai 20 hingga 40 video karena ini sangat tergantung kepada durasi video. Bila durasi video sangat panjang akan memengaruhi jumlah video yang ditandai karena flagger harus menonton video tersebut secara keseluruhan. Kewajiban menonton video secara keseluruhan ini merupakan upaya agar penandaan video lebih akurat dan presisi (sesuai dengan waktu di video). Jadi flagger tidak bisa menduga-duga menit dan detik ke berapa yang melanggar CGL. Menit dan detik pelanggaran ini ditandai dan nanti akan disertakan dalam laporan ke YouTube sehingga YouTube bisa lebih cepat menanganinya.

Keberadaan Trusted Flagger YouTube merupakan sesuatu yang sangat penting. YouTube sangat mengandalkan trusted flagger karena dari merekalah diperoleh laporan tentang konten yang melanggar CGL, meskipun saat ini YouTube juga menggunakan machine learning dan Artificial Intelligence untuk menandai video yang melanggar bahkan sebelum ditonton pengguna. Meskipun merupakan kemajuan, baik machine learning maupun artifial intelligence cenderung mudah diakali.

Statistik menujukkan anak-anak dan remaja di AS kini menjadikan YouTube sebagai tujuan utama. Di Indonesia juga terjadi hal yang sama. Bisa dibayangkan bila YouTube tidak bisa membersihkan konten-konten yang melanggar CGL mereka sehingga keberadaan Trusted Flagger menjadi semakin penting.

Trusted flagger ke depannya harus makin dipertimbangkan opininya. Bila konten tertentu diminta dihapus oleh flagger, apalagi flagger yang memiliki tingkat keakuratan penandaan video sangat tinggi seperti flagger dari Indonesia, sudah seharusnya YouTube lebih memperhatikan opini mereka. Hal ini tentu bukan meminta keisitimewaan, melainkan agar penandaan yang dilakukan flagger tersebut lebih efektif dan efisien, terutama terkait konten seks karena banyak sekali video seks yang telah diberikan tanda age restricted ternyata secara gamblang melanggar CGL YouTube.

Trusted Flagger juga ikut menyumbang bagi kondisi yang lebih sejuk di masyarakat, terutama terkait dengan sebaran hoax dan hate speech. Meskipun tidak ada kategori tertentu dalam pelanggaran CGL, trusted flagger telah berusaha menandai konten video yang merupakan bagian dari disinformasi, false news, hoax dan hate speech. Ke depannya YouTube mungkin perlu memberikan kategori tersendiri agar konten hoax terutama lebih mudah ditandai dan lebih cepat dihapus. Khusus untuk Indonesia, hoax politik dan SARA sangat banyak bertebaran dan bisa saja videonya diupload ke YouTube sehingga dengan memberikan kategori khusus akan lebih mudah ditandai.

Terakhir, keberadaan Trusted Flagger sudah seharusnya terus dipertahankan. Trusted Flagger merupakan bagian penting dari layanan YouTube yang bisa memberikan rasa nyaman berada di YouTube karena kerja keras mereka dalam “membersihkan” YouTube dari konten yang kekerasan, seks, pelecehan anak, dan konten melanggar lainnya. YouTube perlu melihat peran penting YouTube Flagger ini dan menjadikan Trusted Flagger sebagai bagian tak terpisahkan dari layanan YouTube itu sendiri.

Sumber Foto: The Guardian