Facebook dan Media Sosial Lainnya Bantu Sebarkan Propaganda Antivaksin

Ketika Washington, New York, dan Texas terus memerangi wabah campak, laporan baru memperlihatkan peran Facebook dan platform media sosial lainnya dalam penyebaran propaganda yang memicu gerakan antivaksin.

Serangkaian investigasi dari The Guardian bulan ini mengungkap cara Facebook dan YouTube mempromosikan konten palsu dan menyesatkan, terlepas dari bahaya yang ditimbulkan pada kesehatan masyarakat. Algoritma mereka mengarahkan pemirsa ke arah informasi yang keliru tentang informasi berbasis ilmu pengetahuan. Kelompok atau grup tertutup di Facebook seperti Stop Mandatory Vaccination menyebarkan saran yang tidak akurat di antara ratusan ribu anggota mereka, dan, sebagaimana diungkapkan pekan lalu, Facebook mengizinkan pengiklan untuk mempromosikan konten ini, sebuah contoh lain di mana platform tersebut ditemukan menjajakan propaganda berbahaya.

Sekarang, profesional medis dan beberapa anggota parlemen menyerukan tindakan keras. Dalam sepucuk surat kepada para eksekutif di Facebook dan Google (yang memiliki YouTube), anggota Kongres AS Adam Schiff (D-California) pekan lalu mengutuk raksasa teknologi tersebut karena membantu menyebarkan propaganda antivaksin yang paling akhir terkait dengan wabah campak di Washington sehingga menginfeksi lebih dari 60 orang.

Dalam menghadapi tekanan dari Schiff dan lainnya, Facebook merespons dengan mengatakan kepada Bloomberg News bahwa mereka sedang mengeksplorasi menghapus informasi antivaksin dari platformnya. Hal ini bisa berarti mengurangi atau menghapus jenis konten tersebut dari rekomendasi, termasuk Groups You Should Join dan menurunkannya dalam hasil pencarian, sambil juga memastikan bahwa kualitas yang lebih tinggi dan informasi yang lebih otoritatif tersedia.

Facebook telah mendapat kecaman di masa lalu karena mempromosikan kefanatikan dan kesalahan informasi, seperti yang diungkapkan oleh Standar Pasifik. Reformasi yang dijanjikannya tidak menghentikan penyebaran pidato kebencian, propaganda Rusia, dan berita palsu yang sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian, telah merusak demokrasi. Kontroversi vaksin, juga, memiliki konsekuensi berbahaya, seperti terlihat pada kebangkitan campak, penyakit yang berpotensi fatal yang pernah dieliminasi di Amerika Serikat oleh vaksin.

Pacific Standard melaporkan minggu lalu bahwa gerakan antivaksin telah berkontribusi terhadap wabah campak di AS, Filipina, dan di seluruh Eropa, dan peningkatan 30 persen dalam kasus campak secara global sehingga menyebabkan salah satu alasan mengapa Organisasi Kesehatan Dunia menyebut keragu-raguan terhadap vaksin sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan terbesar pada 2019. Meskipun anti-vaksin merupakan bagian kecil dari populasi, distribusi geografis dan oposisi vokal mereka sudah cukup untuk mengancam kekebalan populasi di setidaknya tiga negara.

Menurut Gregory Zimet, profesor pediatri dan co-direktur Pusat Penelitian HPV di Universitas Indiana – Universitas Purdue, Indianapolis sentimen ini telah dibantu oleh dukungan selebritas, informasi yang salah di Facebook dan YouTube, dan ketidakpercayaan yang semakin besar pada dokter. Kelompok antivaksin menggunakan metafora penyakit menular sangat keras dan juga menggunakan media sosial secara efektif sehingga kemungkinan besar mereka menginfeksi para orangtua yang memiliki pandangan, tetapi tidak benar-benar antivaksin.

Sumber: Pacific Standar

Sumber Foto: The Verge