Akun Asing di Twitter Manipulasi Debat Brexit

Peneliti mengungkapkan bahwa akun-akun Twitter asing baru-baru ini mencoba memengaruhi debat seputar Brexit dengan tweet pro-Leave menerima dukungan terbanyak. Perusahaan keamanan cyber F-Secure menganalisis 24 juta tweet yang diterbitkan antara 4 Desember 2018 dan 13 Februari 2019.

Dari penelitian tersebut ditemukan banyak aktivitas anorganik termasuk retweeting berlebihan yang dilakukan oleh bot atau akun palsu. Kedua belah pihak menerima amplifikasi, tetapi pro-Leave jauh lebih banyak daripada pro-Remain. Twitter menolak mengomentari temuan tersebut.

Menurut peneliti, sejumlah besar akun non-Inggris terlibat dalam percakapan pro-Leavei dan aktivitas retweet. Namun, tim peneliti belum berpikir ada cukup bukti untuk membuktikan bahwa ada kampanye terkoordinasi yang sedang berlangsung untuk memanipulasi opini publik.

Akun Twitter dianggap terkait dengan sayap kanan ketika mereka menerbitkan tweet yang menghubungkan ke sumber berita sayap kanan atau ketika mereka menyatakan dukungan untuk individu seperti aktivis anti-Islam Tommy Robinson, misalnya.

Untuk menentukan apakah akun berbasis di Inggris rumit, tetapi dalam banyak kasus para peneliti dapat menunjukkan, misalnya, bahwa akun akan aktif selama jam malam waktu Inggris atau, kota-kota AS akan ditetapkan sebagai lokasi publik akun. Asosiasi serupa dengan Amerika hadir dalam dataset tweet pro-Leave dari sebelum referendum Brexit 2016, menurut Kalina Bontcheva di University of Sheffield. Bahkan pada saat itu ada akun sayap kanan AS yang terlibat dalam diskusi.

Sementara banyak akun yang mendukung pandangan pro-Leave dan sayap kanan tampaknya berbasis di AS, Prof Jason Reifler di University of Exeter mengatakan pola aktivitasnya konsisten dengan taktik yang diketahui digunakan oleh ladang troll Rusia. Namun, sulit untuk mengetahui apakah perilaku seperti itu di Twitter berdampak pada politisi atau masyarakat luas.

Ia menemukan sangat sedikit bukti bahwa misalnya konsumsi berita palsu mengubah preferensi orang atau kemungkinan mereka untuk memilih. Namun, ada kemungkinan bahwa mengubah percakapan online dengan cara yang halus, tetapi penting dapat memengaruhi wartawan dan politisiyang pada gilirannya mungkin memiliki pengaruh yang lebih luas terhadap masyarakat.

Sumber: BBC

Sumber Foto: The Telegraph