Momo Challenge: Kepanikan Moral yang Disebarkan Orang Dewasa

Ingat kisah Momo Challenge yang dituduh bisa mendorong orang (terutama anak-anak) untuk menyakiti diri mereka sendiri atau bunuh diri? Momo Challenge telah disalahkan atas bunuh diri anak-anak dan serangan kekerasan, tetapi para ahli dan badan amal telah memperingatkan bahwa Momo Challenge tidak lain adalah kepanikan moral yang disebarkan oleh orang dewasa.

Peringatan tentang Momo Challenge menunjukkan bahwa anak-anak didorong untuk bunuh diri atau melakukan tindakan kekerasan setelah menerima pesan pada layanan pesan WhatsApp dari pengguna dengan gambar profil gambar wanita yang terdistorsi dengan mata menonjol.

Berita-berita tentang Momo Challenge juga telah dibagi ratusan ribu kali di Facebook dalam periode 24 jam, mendominasi daftar berita Inggris yang diberi peringkat berdasarkan jumlah interaksi di jejaring sosial. Ada juga klaim bahwa materi tersebut telah muncul dalam video yang menampilkan Peppa Pig di antara konten YouTube yang ditujukan untuk anak-anak.

Akan tetapi, Samaritans dan badan amal NSPCC telah menolak klaim tersebut, dengan mengatakan bahwa sementara ini tidak ada bukti bahwa Momo Challenge telah menyebabkan kerusakan sehingga histeria media saat ini dapat menempatkan orang-orang yang rentan dalam bahaya dengan mendorong mereka untuk memikirkan melukai diri mereka sendiri.

UK Safer Internet Centre menyebut klaim Momo Challenge adalah berita palsu dan YouTube mengatakan tidak melihat bukti video yang menunjukkan atau mempromosikan Momo Challenge pada platformnya. NSPCC mengatakan tidak ada bukti yang dikonfirmasi bahwa fenomena itu sebenarnya merupakan ancaman bagi anak-anak Inggris dan mengatakan mereka telah menerima lebih banyak panggilan telepon tentang hal tersebut dari media, bukan dari orangtua yang peduli.

Seorang juru bicara  Samaritans juga skeptis dan mengatakan bahwa kisah-kisah Momo Challenge dipublikasikan secara luas dan menimbulkan kepanikan sehingga orang-orang yang rentan yang mengetahui tentang hal itu akan berada dalam risiko. Mereka merekomendasikan media untuk membaca pedoman mereka tentang melaporkan bunuh diri dan memperingatkan bahwa liputan pers bisa meningkatkan risiko.

Lebih lanjut dinyatakan oleh juru bicara Samarintans bahwa mereka tidak mengetahui adanya bukti terverifikasi di Inggris atau di luar Inggris yang menghubungkan Momo dengan bunuh diri. Hal yang lebih penting adalah orangtua dan orang-orang yang bekerja dengan anak-anak berkonsentrasi pada pedoman keamanan online yang luas.

Juru kampanye keselamatan anak mengatakan cerita tersebut telah menyebar karena adanya kekhawatiran tentang keamanan anak online, berbagi materi yang belum diverifikasi pada kelompok Facebook lokal, dan komentar resmi dari pasukan polisi Inggris dan sekolah-sekolah yang didasarkan pada sedikit bukti yang jelas atau terverifikasi.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: The Link