Twitter Tumpas Akun Bermasalah, Jumlah Follower Menurun

Pengguna Twitter akan mengalami penurunan jumlah follower mereka minggu ini karena Twitter akan menumpas akun bermasalah, termasuk akun yang telah dibajak untuk menyebarkan penyalahgunaan, misinformasi dan propaganda.

Mulai hari Rabu kemarin Twitter akan menghapus semua akun yang telah mereka kunci sebelumnya dari jumlah pengikut pengguna Twitter. Kebanyakan pengguna akan melihat perubahan empat follower atau lebih sedikit dari jumlah tersebut, tetapi akun dengan pengikut yang lebih besar akan mengalami penurunan jumlah follower lebih signifikan.

Twitter akan mengunci akun ketika mendeteksi perubahan mendadak dalam perilaku akun tersebut, misalnya, jika akun tersebut men-tweet sejumlah besar balasan atau mentions yang tidak diminta, jika akun memposting tautan yang menyesatkan atau jika sejumlah besar akun lain memblokir akun yang dipermasalahkan. Akun juga dapat dikunci jika platform menemukan bahwa kredensial masuk seseorang telah bocor di tempat lain, misalnya melalui pelanggaran data di layanan lain.

Dalam kedua kasus tersebut Twitter akan menghubungi pemilik akun dan meminta mereka untuk memvalidasi akun dan menyetel ulang kata sandinya. Jika pemilik tidak mematuhi, akun tetap terkunci. Vijaya Gadde dari Twitter’s trust and safety team mengatakan bahwa pada sebagian besar kasus, akuntersebut dibuat oleh orang-orang nyata, tetapi Twitter tidak dapat memastikan bahwa orang asli yang membuka akun tersebut masih memiliki kontrol dan akses terhadapnya. Twitter mengatakan akun ini berbeda dari akun spam, yang biasanya menunjukkan perilaku spam sejak awal dan lebih mudah diidentifikasi.

Chief Marketing Officer Unilever, Keith Weed, yang telah menjadi pengkritik keras konten media sosial yang beracun menyambut baik pembaruan tersebut. Menurutnya ekosistem digital sedang tercemar oleh semakin banyak akun pengguna palsu sehingga komitmen Twitter untuk membersihkan ruang digital harus disambut dengan sepenuh hati oleh semua orang, mulai dari pengguna platform, hingga pembuat konten dan pengiklan.

Tindakan keras ini adalah bagian dari upaya baru Twitter untuk membangun kepercayaan dan menumbuhkan percakapan yang lebih sehat di platform mereka. Vijaya Gadde menambahkan bahwa jumlah follower adalah fitur yang terlihat, danTwitter ingin semua orang memiliki keyakinan bahwa angka-angka itu bermakna dan akurat.

Sumber: The Guardian