Pentingnya Edukasi Internet Ramah Anak

London School of Public Relations Jakarta (LSPR Jakarta) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan edukasi literasi internet ramah anak di delapan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) di wilayah DKI Jakarta.

Ketua LPPM LSPR Jakarta, Yuliana Riana MM mengatakan, sebanyak delapan dosen dan puluhan mahasiswa bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo), ICT Watch, Yayasan Sejiwa, Forum Anak DKI Jakarta dan Traditional Games Return Community, mewujudkan kegiatan yang ditujukan bagi orang tua dengan anak-anak berusia 7 tahun hingga 14 tahun ini.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat memaksimalkan fungsi internet dengan cerdas, memiliki kesadaran akan pentingnya penggunaan internet sehat, dan juga paham dengan penggunaan internet ramah anak,” kata Yuliana di Jakarta, Minggu (5/8).

Menurut Yuliana, RPTRA yang menerima penyuluhan adalah RPTRA Meruya Utara, RPTRA Borobudur, RPTRA Cililitan, RPTRA Kebon Sirih, RPTRA Rasamala, RPTRA Semper Barat, RPTRA DKI Berseri, RPTRA Tiga Durian. “Di setiap RPTRA, kegiatan ini diikuti sekitar 30 orang tua dan 50 anak-anak. Sehingga, ada sekitar 800 orang yang akan merasakan dampak dan manfaat dari kegiatan ini,” kata dia.

Yuliana menambahkan, pihaknya berharap melalui kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata mengenai pentingnya pemahaman penggunaan internet secara benar. “Kami berpikir, peran orang tua sangat penting untuk memastikan internet dan gawai dapat memberikan manfaat optimal bagi tumbuh kembang anak baik pengetahuan maupun kepribadiannya,” tambahnya.

Executive Dean Campus C LSPR Jakarta, Dr Janette Maria Pinariya mengatakan, pihaknya merasa kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan. Dari data yang dimiliki oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada sekitar 24,4 juta anak muda yang berusia 10 tahun hingga 24 tahun, merupakan pengguna Internet. Angka tersebut, sekitar 75,5 persen penduduk Indonesia.

“Oleh karena itu, kami berharap edukasi ini juga dapat meminimalisasi bahaya internet seperti cyberbully, terpapar konten negatif, menjadi korban dari pelanggaran privasi, dan juga dampak negatif lainnya,” tambahnya.

Mahasiswa LSPR sebagai PIC kegiatan LSPR Community Service, Aghnina Wahdini menambahkan, sosialisasi literasi internet untuk anak-anak dilakukan dengan roleplaying, di mana mahasiswa membawakan topik internet sehat, anti bullying, dan anti hate speech dan berperan sebagai LIRA dan EDU. LIRA merupakan akronim dari Literasi Internet Ramah Anak dan EDU merupakan singkatan dari Edukasi.

Roleplay ini dilakukan agar anak-anak dapat lebih mudah memahami materi dengan visualisasi yang menarik. Kemudian, mahasiswa akan mengulas kembali materi yang terkandung dalam roleplay tersebut sambil melakukan tanya jawab interaktif dengan anak-anak,” kata Aghnina.

Sumber: Berita Satu

Sumber Foto: ICT Watch