Facebook Hapus Halaman dan Akun Berita Palsu Rusia

Facebook telah menghapus 500 halaman dan akun yang diduga terlibat dalam menjajakan berita palsu di Eropa Tengah, Ukraina, dan negara-negara Eropa Timur lainnya. Tindakan Facebook tersebut mengakhiri upaya dua kelompok terpisah untuk memanipulasi pengguna Facebook. Akun tersebut memiliki lebih dari 900.000 pengikut dan di antara mereka menghabiskan lebih dari 160.000 dollar AS untuk iklan.

Facebook mengatakan akun-akun tersebut secara longgar terhubung dengan kelompok negara Rusia yang diketahui mendorong berita palsu.

Langkah  menghapus akun dan halaman tersebut menghantam dua kampanye terpisah yang terlibat dalam perilaku tidak otentik terkoordinas. Halaman grup dan akun terbesar terletak di Rusia, tetapi menargetkan kontennya yang menyesatkan di sebagian besar negara dan wilayah di Eropa Timur. Organisasi-organisasi yang menjalankan halaman tersebut berlaku sebagai sumber berita independen dan secara teratur memberikan informasi tentang berbagai subjek termasuk cuaca, perjalanan, olahraga, ekonomi, dan politik. Selain subjek yang lebih umum, halaman tersebut juga secara teratur menulis tentang gerakan protes, sentimen anti-NATO dan upaya anti-korupsi.

Investigasi Facebook dibantu oleh polisi dan kelompok teknologi lainnya, menemukan bahwa banyak orang di balik akun dan halaman ini bekerja untuk kantor berita Rusia Sputnik. Grup akun lain yang dihapus juga terletak di Rusia, tetapi mengarahkan hampir semua kontennya ke Ukraina. Jenis-jenis informasi yang disebarkan dan taktik yang digunakan memiliki karakteristik sama dengan kampanye yang dijalankan oleh Internet Research Agency (IRA) Rusia.

Pemerintah AS menggambarkan IRA sebagai troll farm atau ladang troll dan menuduh IRA memiliki hubungan dengan pemerintah Rusia. Pada bulan Februari 2018, 13 orang yang bekerja untuk IRA didakwa oleh AS dan dituduh mencoba merusak pemilihan presiden AS 2016.

Facebook mengatakan bahwa mereka menyelidiki halaman dan akun tersebut berdasarkan perilaku mereka, bukan konten yang mereka posting. Dalam kasus ini, orang-orang di balik kegiatan ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menggambarkan diri mereka sendiri secara salah dan itulah dasar dari tindakan Facebook.

Sumber: BBC

Sumber Foto: The Guardian NG