Marak SMS Hoax Saat Pilpres 2019 dengan BTS Palsu

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia atau BRTI menemukan banyak hoax yang disebarkan menggunakan SMS palsu melalui teknologi mobile blaster atau fake BTS pada pemilu 2019. Komisioner BRTI, Agung Harsoyo mengemukakan teknologi mobile blaster atau fake SMS tersebut dipakai oknum tanpa izin dari operator atau pemilik nomor yang sebenarnya kemudian pesan singkat dikirimkan kepada seluruh pengguna operator seluler secara acak. Dengan cara tersebut mereka bisa menyebarkan SMS seolah-olah dari pemilik resmi nomor.

Dia menjelaskan fake BTS tersebut juga sempat digunakan oknum masyarakat sejak Pilkada DKI Jakarta beberapa tahun lalu, namun jumlahnya masih belum banyak. Kemudian, pada 17 April 2019 kemarin, pengguna fake BTS makin banyak beroperasi dan semakin canggih.

Menurut Agung, masyarakat yang memiliki teknologi fake BTS tersebut beroperasi dengan melakukan intersepsi jaringan operator telekomunikasi yang ada di sekitar BTS dan lokasinya tidak jauh dari alat fake BTS tersebut.

Agung menyebutkan regulator telah mengeluarkan larangan penggunaan SMS blast melalui fake BTS dan akan menjerat pelakunya dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ia menjelaskan meskipun larangan itu sudah dibuat, namun regulator mengalami kesulitan untuk mengatasi penggunaan fake BTS  di masyarakat karena teknologi tersebut sudah beredar cukup luas.

Secara terpisah, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB Mohammad Ridwan Effendi mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk menangkap dan memproses hukum pelaku yang menggunakan teknologi fake BTS tersebut. Menurutnya teknologi fake BTS tersebut kini dijual bebas di beberapa toko offline teknologi dan dihargai hingga mencapai puluhan juta. Kominfo, menurutnya, harus melarang penjualan alat itu, sama seperti larangan untuk menjual jammer dan alat penguat sinyal.

Sumber: Tempo

Sumber Foto: TurnBack Hoax