Facebook Akhirnya Larang Alex Jones dan Tokoh Sayap Kanan Lainnya

Facebook akhirnya mengambil keputusan untuk melarang beberapa akun terkemuka yang mempromosikan nasionalisme kulit putih di platform mereka. Akun yang dilarang dari Facebook, serta anak perusahaannya Instagram, merupakan bagian dari penegakan baru yang dilakukan Facebook. Akun tersebut termasuk ahli teori konspirasi Alex Jones, troll kanan-jauh Milo Yiannopoulos dan tokoh anti-Muslim Laura Loomer. Jones sebelumnya dilarang dari Facebook, tetapi masih memiliki akun di Instagram, yang tidak lagi aktif sejak Kamis kemarin.

Facebook mengatakan bahwa mereka selalu melarang individu atau organisasi yang mempromosikan atau terlibat dalam kekerasan dan kebencian, terlepas dari ideolog mereka. Proses untuk mengevaluasi pelanggar potensial sangat luas dan itulah yang membuat Facebook mengambil keputusan untuk menghapus akun-akun tersebut kemarin.

Facebook juga mengatakan akan menghapus akun yang berkaitan dengan Louis Farrakhan dari kelompok Nation of Islam, yang telah memposting materi antisemit.

Kritik terhadap Facebook mengatakan bahwa mereka pada kenyataannya tidak selalu melarang orang terlibat dalam kekerasan dan kebencian. Facebook sering bergulat untuk mengendalikan ujaran kebencian sayap kanan di platform mereka dalam beberapa tahun terakhir. Tokoh seperti Jones, Loomer dan Yiannopoulus mampu memupuk jangkauan besar menggunakan Facebook, membuat langkah Facebook tidak cukup. Hal ini diungkapkan oleh Cristina López G, wakil direktur ekstremisme di Media Matters for America, sebuah pengawas media nirlaba.

Menurutnya pelarangan tersebut adalah langkah ke arah yang benar, dan itu menunjukkan dengan tepat mengapa Facebook perlu berpikir tentang penegakan hukum secara lebih holistik. Facebook dapat membantu mengekang penyebaran ekstremisme, kebencian, dan kefanatikan yang berkembang pada platformnya jika tetap terbuka untuk mereformasi langkah-langkah penegakan hukum.

Jones dan beberapa akun lainna telah dilarang dari Facebook dan Instagram di bawah kebijakannya terhadap  individu dan organisasi berbahaya. Perusahaan mengatakan akan melanjutkan kebijakan melarang akun yang memuji atau mendukung tokoh-tokoh tersebut di platform mereka.

Banyak akun yang terpengaruh oleh pengumuman pelarangan tersebut telah dilarang dari situs media sosial lainnya. Sebagai contoh, halaman yang berkaitan dengan Infowars telah dihapus dari Facebook, tetapi sampai sekarang situs berita konspirasi tersebut masih diizinkan untuk memiliki akun di layanan Instagram.

Yiannopoulos, mantan karyawan Breitbart News, sudah dilarang oleh Twitter dan Facebook, tetapi keputusan untuk menghapus akun Instagram-nya membuat satu-satunya outlet media sosial utamanya sekarang hanya di YouTube.

Perubahan sikap menunjukkan bahwa Facebook mengadopsi pendekatan yang lebih konsisten di semua platformnya. Facebook baru-baru ini secara khusus melarang materi supremasi kulit putih dari layanannya dan telah mendapat tekanan yang meningkat untuk bertindak terhadap konten tersebut setelah serangan teror Christchurch, yang disiarkan langsung di jaringannya.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: The New Media