Pemilu Eropa 2019: Facebook dan Twitter Jadi Sorotan

Saat pemilihan umum UE makin mendekat, para peneliti telah melihat peran yang dimainkan jejaring sosial dan vonis awal mereka adalah bahwa tingkat penyalahgunaannya relatif rendah. Penelitian oleh Oxford Internet Institute menemukan bahwa apa yang disebut berita sampah jauh lebih tidak lazim di Twitter dan Facebook daripada cerita dari sumber berita yang dapat dipercaya.

Namun, studi dalam tujug bahasa tentang jenis informasi yang dibagi pengguna media sosial menjelang pemungutan suara, memang menemukan bahwa berita-berita sampah individu lebih mungkin untuk dibagikan di Facebook daripada hasil pekerjaan organisasi berita arus utama.

Penelitian terpisah untuk BBC oleh pakar University of Birmingham menunjukkan peningkatan dalam pembuatan bot Twitter pada awal Mei, dengan beberapa akun melakukan tweet dengan  tema Brexit ribuan kali. Akan tetapi Prof Oleksandr Talavera mengatakan bahwa Twitter telah menjadi jauh lebih efektif dalam menemukan dan menutup akun yang melanggar aturannya.

Studi Oxford menemukan bahwa kurang dari 4% berita di Twitter berasal dari sumber-sumber berita sampah, yang didefinisikan sebagai outlet penerbitan yang sengaja menyesatkan, menipu, atau informasi yang salah. Angka itu, bagaimanapun, naik menjadi 21% di Polandia.

Namun di Facebook, sementara berita arus utama lebih terlihat, berita dari sumber berita sampah terbukti jauh lebih menarik. Dalam bahasa Inggris, misalnya, rata-rata berita sampah mendapat empat kali lebih banyak LIKE dan interaksi Facebook lainnya daripada berita dari organisasi berita profesional.

Berita sampah yang terbukti populer termasuk indikasi bahwa seorang politisi Belanda menginginkan pantai halal di Den Haag, sebuah kisah bahwa seorang gadis Muslim telah dibunuh oleh keluarganya dan dibuang di sungai karena terlalu kebarat-baratan, dan sebuah laporan yang menyebutkan Vladimir Putin menawarkan bantuan keuangan untuk membangun kembali Katedral Notre Dame.

Penelitian ini tidak menunjukkan Rusia karena menyebarkan informasi yang salah. Nahema Marchal yang ikut dalam menulis penelitian tersebut mengatakan bahwa hampir tidak ada sampah online yang ditemukan yang berasal dari sumber-sumber Rusia yang dikenal. Sebaliknya, media lokal, hiper-partisan, dan media alternatif yang mendominasi.

Baik Twitter dan Facebook telah membentuk tim untuk memantau aktivitas di platform mereka menjelang pemilihan Eropa. Sejauh ini, tampaknya mereka belum mendeteksi tingkat gangguan dari sumber-sumber Rusia atau gelombang tweet spam otomatis yang terlihat selama pemilihan presiden AS dan pemilihan referendum Uni Eropa pada tahun 2016.

Sumber: BBC

Sumber Foto: The New Media