Pendiri Facebook Serukan untuk Memecah Facebook

Salah satu pendiri Facebook menyerukan agar pemerintah AS memecah perusahaan Facebook dan memperingatkan bahwa kekuatan yang ada pada Mark Zuckerberg  belum pernah terjadi sebelumnya dan bukan sesuatu yang Amerika.

Chris Hughes, yang membantu mendirikan Facebook setelah bertemu Zuckerberg di Harvard, menulis di New York Times bahwa akuisisi Facebook atas platform saingan telah memberi Zuckerberg kekuatan yang tak tertandingi atas pembicaraan dan bahwa, sejak awal Facebook, Zuckerberg telah menggembar-gemborkan dominasi sebagai tujuan akhirnya.

Hughes menuliskan bahwa pengaruh Mark sangat mengejutkan, jauh melampaui siapa pun di sektor swasta atau di pemerintahan. Dia mengendalikan tiga platform komunikasi inti, yaitu Facebook, Instagram, dan WhatsApp yang digunakan miliran orang setiap hari.

Hughes mengatalan bahwa sudah waktunya untuk memecah Facebook. Facebook memiliki lebih dari 2 miliar pengguna bulanan, menurut laporan pendapatan terbarunya, sementara WhatsApp, Messenger dan Instagram masing-masing digunakan oleh lebih dari 1 miliar orang.

Senator Massachusetts Elizabeth Warren telah berjanji bahwa jika dia terpilih sebagai presiden, dia akan memecah Facebook, Amazon dan Google, mengkritik merger anti-persaingan seperti akuisisi Facebook atas Instagram dan WhatsApp pada 2012 dan 2014. Dia melakukan tweet dukungannya untuk Hughes pada hari Kamis minggu lalu dan mengatakan bahwa sudah saatnya untuk memecah teknologi besar. Dia telah mengusulkan meloloskan undang-undang untuk mengurangi kekuatan perusahaan teknologi raksasa termasuk Amazon, Google dan Facebook.

Hughes meninggalkan Facebook pada 2007 untuk mengerjakan kampanye kepresidenan Barack Obama, dan ia menjual saham Facebooknya pada 2012 dengan harga setengah miliar dolar, tetapi ia mengatakan ia masih merasakan rasa marah dan tanggung jawab di atas penguasaan Facebook Menurutnya aspek paling problematis dari kekuatan Facebook adalah kontrol sepihak Mark atas pembicaraan. Tidak ada preseden untuk kemampuannya memantau, mengatur, dan bahkan menyensor percakapan 2 miliar orang.

Facebook telah dihantui oleh skandal dan kemarahan yang semakin besar tentang pengaruhnya selama beberapa tahun terakhir. Pada bulan Maret 2018, terungkap bahwa Cambridge Analytica, sebuah perusahaan analisis data yang bekerja dengan tim pemilihan Donald Trump, telah memanen jutaan profil Facebook untuk menargetkan pengguna dengan iklan politik pribadi. Baru bulan lalu, Facebook mengaku tidak sengaja mengunggah buku alamat 1,5 juta pengguna tanpa persetujuan.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: The New Media