Hacker Curi Data Medis untuk Menyamar sebagai Dokter

Dalam hal kesehatan, pencegahan adalah obat terbaik. Tampaknya filosofi tersebut juga perlu diperluas ke data medis.

Apabila informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi, misalnya nama lengkap, nomor jaminan sosial, alamat rumah, tanggal lahir, nomor kartu kredit dapat dimanfaatkan oleh penjahat untuk melakukan penipuan identitas, pencurian informasi medis ternyata memiliki dampak serius yang sama pada korban

Laporan yang diterbitkan oleh Carbon Black menjelaskan bagaimana peretas menggunakan data perawatan kesehatan curian untuk keuntungan mereka. Menurut mereka, data berharga dari industri perawatan kesehatan melebihi informasi kesehatan yang dilindungi (protected health information atau PHI) dan penawaran terpanas hari ini adalah data penyedia, pemalsuan, dan informasi masuk perusahaan asuransi kesehatan yang diretas.

Carbon Black, khususnya, mencatat empat jenis pencurian cyber, yaitu

  1. Meretas data penyedia untuk mencuri dokumen administrasi seperti lisensi medis untuk memalsukan identitas dokter. Data ini dijual di dark web dengan harga sekitar 500 dollar AS.
  2. Meretas informasi login penyedia asuransi dan kemudian menjualnya ke pembeli, yang kemudian dapat mengatur ulang kredensial ke database dan mengambil identitas korban untuk mengklaim asuransi. Cara ini secara efektif dapat melumpuhkan akses rumah sakit ke catatan pasien dan sistem kritis lainnya.
  3. Menempa kartu asuransi kesehatan, resep, dan label obat dengan maksud untuk membawa obat-obatan melalui bandara.
  4. Menggunakan informasi kesehatan pribadi yang diretas terhadap individu yang memiliki masalah kesehatan untuk pemerasan dan kejahatan lainnya.

Laporan ini juga mencakup survei terhadap sejumlah chief information security officers (CISO) dari industri. Menurut hasil survei, 83 persen dari organisasi perawatan kesehatan yang disurvei mengatakan mereka telah melihat peningkatan serangan siber dalam 12 bulan terakhir. Hampir setengah (45 persen) dari perusahaan tersebut mengatakan mereka mengalami serangan yang berfokus pada perusakan informasi selama setahun terakhir.

Sumber: The Next Web

Sumber Foto: The Telegraph