Prancis: Facebook Setuju Memberikan Nama Pengguna yang Melakukan Ujaran Kebencian

Facebook telah setuju untuk memberikan nama-nama pengguna Facebook Prancis yang diduga menggunakan ujaran kebencian pada platformnya ke pengadilan saat diminta. Kesepakatan tersebut diyakini sebagai yang pertama dari jenisnya di dunia.

Di masa lalu, raksasa teknologi Facebook telah mengungkapkan alamat IP dan bentuk identifikasi lainnya kepada hakim Prancis, tetapi hanya dalam kasus yang berkaitan dengan terorisme dan tindakan kekerasan. Cedric O, menteri Prancis untuk urusan digital, menyebut kesepakatan tersebut merupakan berita besar.

Ujaran kebencian ilegal didefinisikan oleh Komisi Eropa sebagai perilaku publik yang menghasut kekerasan atau kebencian kepada kelompok orang yang ditentukan oleh karakteristik seperti ras, agama, dan asal etnis. Cederic O mengatakan kesepakatan itu adalah hasil dari diskusi antara Facebook dan pemerintah Prancis.

Ia mengatakan bahwa kesepatakan tersebut adalah berita besar, artinya proses pengadilan akan dapat berjalan secara normal. Menurutnya ha; tersebut benar-benar sangat penting, dan Facebook hanya melakukannya untuk Prancis.

Menurut Reuters, Facebook tidak mengidentifikasi orang yang disangka melakukan ujaran kebencian di masa lalu karena tidak diharuskan untuk melakukannya di bawah hukum AS-Prancis dan karena khawatir beberapa negara dapat menyalahgunakan permintaan data.

Parlemen Prancis saat ini sedang memperdebatkan undang-undang yang dapat membuat perusahaan teknologi didenda hingga 4% dari pendapatan global mereka jika mereka tidak melakukan usaha yang cukup untuk menghapus konten yang penuh kebencian dari platform mereka.

Jerman menerapkan undang-undang serupa pada Januari 2018 di mana jejaring sosial besar memiliki 24 jam untuk menghapus materi yang benar-benar ilegal setelah mereka diberitahu tentang hal tersebut atau menghadapi denda hingga 44 juta pound.

Sumber: BBC

Sumber Foto: The New Media