Google Menangkan Kasus Hak Untuk Dilupakan

Pengadilan tertinggi Uni Eropa telah memutuskan bahwa hak untuk dilupakan daring tidak boleh melampaui batas Uni Eropa. Keputusan ini merupakan kemenangan besar bagi Google. Hak untuk dilupakan yang diabadikan dalam putusan hukum 2014, mengharuskan mesin pencari untuk menghapus informasi yang memalukan atau ketinggalan zaman, ketika diminta oleh orang-orang yang terkait dengan hasil pencarian tersebut, tetapi dalam putusan penting kemarin (Selasa 24/9), pengadilan Eropa mengatakan bahwa operator mesin pencari tidak memiliki kewajiban untuk menghapus informasi di luar zona 28 negara atau Uni Eropa.

Namun keputusan pengadilan juga menekankan bahwa mesin pencari harus secara serius mencegah pengguna internet untuk pergi ke halaman versi non-UE untuk menemukan informasi tersebut. Menurut pengadilan, keseimbangan antara hak untuk privasi dan perlindungan data pribadi dan kebebasan informasi pengguna internet, di sisi lain, cenderung sangat bervariasi di seluruh dunia. Hak untuk dilupakan bukanlah hak absolut dan harus diseimbangkan dengan hak-hak fundamental lainnya, sesuai dengan proporsionalitas.

Para pegiat privasi memuji keputusan tersebut sebagai kemenangan untuk kebebasan berekspresi global sementara Google menyambut baik keputusan pengadilan.

Kasus tersebut berawal dari perselisihan antara Google dan regulator privasi Perancis CNIL, yang pada tahun 2015 menyerukan perusahaan untuk secara global menghapus tautan ke halaman yang berisi informasi yang merusak atau salah tentang seseorang.

Google memperkenalkan fitur geo-blocking pada 2016 tahun berikutnya, yang membuat pengguna Eropa tidak bisa melihat tautan yang dihapuskan. Namun, menolak menyensor hasil pencarian untuk orang-orang di bagian lain dunia sehingga menghadapi denda 100.000 euro yang coba diterapkan CNIL. Google berpendapat bahwa, jika aturan ini diterapkan di luar Eropa, kewajiban itu dapat disalahgunakan oleh pemerintah otoriter yang berusaha menutupi pelanggaran hak asasi manusia.

Thomas Hughes, direktur eksekutif organisasi kebebasan berekspresi Article 19, menggambarkan keputusan itu sebagai kemenangan bagi kebebasan berekspresi global. Pengadilan atau regulator data di Inggris, Prancis atau Jerman seharusnya tidak dapat menentukan hasil pencarian yang dapat dilihat oleh pengguna internet di Amerika, India atau Argentina. Adalah tidak benar bahwa otoritas perlindungan data satu negara dapat memaksakan interpretasinya di internet untuk pengguna di seluruh dunia.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: The Next Web