Facebook Hapus Iklan Sensus Trump yang Menyesatkan

Facebook telah menghapus serangkaian iklan yang menyesatkan dari kampanye Donald Trump yang mempromosikan the Official 2020 Congressional District Census. Iklan-iklan tersebut memperlihatkan responden tampak mengambil bagian dalam sensus resmi AS 2020, yang dimulai pada 12 Maret. Iklan tersebut dipasang oleh kelompok penggalangan dana yang didukung oleh pejabat Republik dan tim pemilihan ulang Trump.

Juru bicara Facebook mengatakan bahwa ada kebijakan untuk mencegah kebingungan di sekitar sensus resmi AS dan penghapusan inklan tersebut merupakan contoh dari penegakan kebijakan Facebook.

Iklan mulai berjalan di Facebook pada 3 Maret. Jika pengguna mengklik tautan, maka akan membawa pengguna ke survei umum yang berfokus pada poin pembicaraan Republik. Iklan-iklan itu dibayar oleh “Trump Make America Great Again Committee”, bagian dari upaya penggalangan dana pemilihan ulang Trump yang resmi. Iklan tersebut juga didukung oleh kampanye Trump dan partai nasional Republik.

Ia memiliki dan mengoperasikan halaman Facebook Donald Trump dan Mike Pence, yang memuat iklan kontroversial.

Gupta, presiden dan CEO The Leadership Conference on Civil and Human Rights, yang membantu Facebook menyusun kebijakannya mengenai gangguan sensus mengatakan bahwa iklan itu “menipu” dan “tidak dapat diterima”.

Menurutnya, jika Trump mengatakan sensus palsu sebagai sensus resmi orang akan berpikir resmi. Iklan Trump yang menyesatkan akan membingungkan orang tentang bagaimana dan kapan berpartisipasi dalam Sensus 2020, mengancam hak mereka untuk diperhitungkan dan membawa sumber daya dan kekuatan politik dari komunitas mereka.

Mereka yang mengklik tautan dalam iklan dikirim ke halaman di situs web Donald Trump tempat mereka diminta untuk menyelesaikan survei. Survei dimulai dengan menanyakan usia dan kecenderungan politik, sebelum mengajukan pertanyaan tentang poin pembicaraan Trump seperti “Obamacare”, “the Democrats’ failed Impeachment Witch Hunt” and “Nancy Pelosi and the Radical Left”. Mereka yang mengisi sensus yang menyesatkan tersebut pada akhirnya dikirim ke halaman web yang meminta sumbangan.

Sumber: BBC