Literasi Digital Virus Corona

Aplikasi Pelacakan Kontak Virus Corona: Terpusat vs Desentralisasi

Internet Sehat: Negara-negara di dunia saat ini berpacu dengan waktu untuk mengembangkan aplikasi pelacakan kontak virus Corona. Saat ini  negara-negara di dunia terbagi antara dua jenis aplikasi, yaitu terpusat dan desentralisasi.

Negara-negara di seluruh dunia kini sedang mengembangkan aplikasi smartphone Covid-19 untuk membatasi penyebaran coronavirus dan mengendurkan lock down.

Diharapkan informasi yang mereka kumpulkan dari aplikasi terebut dapat digunakan untuk memperingatkan orang-orang apakah mereka berisiko menyebarkan penularan dan perlu diisolasi. Namun, selama beberapa minggu terakhir, perpecahan telah muncul antara dua jenis aplikasi yang berbeda, yaitu versi terpusat dan terdesentralisasi.

Kedua versi aplikasi ini menggunakan sinyal Bluetooth untuk login ketika pemilik ponsel pintar saling berdekatan.  Jadi jika seseorang memperlihatkan gejala Covid-19, peringatan akan dikirim ke pengguna lain yang mungkin telah terinfeksi.

Di bawah model terpusat, data yang dianonimkan dikumpulkan diunggah ke server jauh di mana kesesuian dibuat dengan kontak lain, jika seseorang mulai memperlihatkan gejala Covid-19.

Sebaliknya, model desentralisasi memberi pengguna kontrol lebih besar atas informasi mereka dengan menyimpannya di telepon. Di sanalah kesesuian dibuat dengan orang-orang yang mungkin tertular virus. Versi ini adalah model yang dipromosikan oleh Google, Apple dan konsorsium internasional.

Kedua belah pihak memiliki pendukunga masing-masing. Pendukung model terpusat mengatakan bahwa versi tersebut dapat memberi otoritas lebih banyak wawasan tentang penyebaran virus dan seberapa baik kinerja aplikasi. Pendukung pendekatan desentralisasi mengatakan bahwa versi mereka menawarkan pengguna tingkat privasi yang lebih tinggi, melindungi mereka dari peretas atau negara itu sendiri mengungkapkan kontak sosial mereka.

Sebenarnya, keduanya tidak terbukti pada tahap ini. Korea Selatan, yang dipandang sebagai salah satu negara paling sukses dalam menangani Covid-19, telah melakukannya tanpa aplikasi pelacakan kontak. Namun telah menggunakan metode pengawasan lain yang akan dilihat sebagai invasif oleh banyak orang.

Nah, untuk Indonesia sendiri versi mana yang akan dipakai. Sejauh informasi yang ada, aplikasi yang ada di Indonesia meniru yang telah ada di Singapura sehingga ini merupakan versi terpusat. Versi ini tentu kurang baik bagi privasi pengguna dan tidak bisa berjalan begitu baik karena adanya pembatasan yang dilakukan oleh Apple dan Google.

Aplikasi ini sehendaknya adalah yang menghargai privasi pengguna sebagaimana yang dikampanyekan oleh Internet Sehat selama ini.

Sumber: BBC

Similar Posts