#BaliBangkit: Digital Life During the COVID-19

Internet Sehat : Pandemi COVID-19 masih berlangsung dan semua pihak bahu-membahu melakukan berbagai penanganan. Di tengah upaya tersebut, sebaran informasi keliru menjadi hambatan yang membuat sebagian masyarakat tidak percaya, baik terhadap keberadaan virusnya maupun ikhtiar penanganannya. Masih ada yang menolak vaksinasi, isolasi terpusat, dan protokol kesehatan.

Menjaga kesehatan di masa sekarang tak cukup hanya melalui konsumsi makanan bernutrisi, tetapi juga perlu dilapisi dengan vaksinasi  COVID-19 dan menyaring informasi yang kita terima dari berbagai kanal digital.

Melalui Talkshow “Digital Life During the COVID-19” dalam program Bali Bangkit, dibuka sharing session tentang strategi menangani berita simpang siur soal vaksinasi COVID-19.

Acara yang diinisiasi ICT Watch, Common Room, dan Relawan TIK ini dihadiri oleh perwakilan dari LUMINATE, Unicef Indonesia, dan Relawan COVID Nasional (RECON) sebagai narasumber. Sementara peserta dihadiri sekitar 20 orang utusan khusus Relawan TIK.

Bicara keamanan berinternet terutama di era pandemi, banyak aplikasi yang menyajikan informasi seputar COVID-19, pemantauan status vaksinasi, hingga konfirmasi kasus positif COVID-19. Aplikasi ini bertujuan baik untuk memberikan akses informasi seseorang saat mengunjungi suatu daerah. Namun, dalam penggunaannya perlu diperhatikan risiko keamanan privasinya.

Terkait hal ini, Dinita A.  Putri dari LUMINATE mengatakan, perlu memperhatikan akses perizinan yang diminta oleh aplikasi. Terutama yang berhubungan dengan privasi. Kita harus menyadari, untuk tidak memberikan akses perizinan aplikasi yang berlebihan.

“Kita sering kali nggak sadar memberikan akses-akses ke aplikasi. Kadang ketika kita sudah mendownload aplikasi itu sudah ada defaultnya akses microphone, kontak, kamera, dan lokasi. Apakah akses tersebut sesuai dengan manfaat aplikasi? Karena itu perlu disesuaikan. “ tutur Dinita secara daring kepada teman-teman Relawan TIK yang hadir di meeting room CLV Hotel, Bedugul, Bali, Sabtu 28 Agustus 2021.

Penyesuaian izin akses ini perlu dilakukan untuk semua aplikasi yang kita unduh, demi menjaga keamanan privasi. Termasuk di aplikasi pemantauan kesehatan khusus COVID-19.

Menyambung soal keamanan berinternet, Rizky Ika Syafitri (Kiki) dari Unicef Indonesia turut menyampaikan, banyak sekali hoaks yang berkembang mengenai vaksinasi COVID-19. Kiki mengakui ini menjadi tantangan luar biasa dalam Komunikasi Publik.  Di tengah pandemi seperti ini, informasi yang datang dari organisasi dunia sekalipun kerap berubah karena proses kajian yang berkala. 

“Ini menjadi peluang berbagai misinformasi. Ini juga menjadi peluang untuk membuat orang bingung. Kemudian menjadi peluang buat orang untuk menggunakan kebingungan ini untuk kepentingan pribadinya,” ujar Kiki kepada peserta.

Untuk itu, dalam mensosialisasikan soal vaksinasi COVID-19 amat membutuhkan peran dari berbagai organisasi, mulai dari pemerintah hingga masyarakat sipil sekalipun untuk memberikan informasi yang tepat.

“Relawan TIK juga bisa menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” kata Kiki.

Di samping teliti dalam menjaga data pribadi dan menanggapi hoaks, masyarakat juga perlu mendukung upaya 3T (testing, tracing, treatment) sebagai usaha meminimalkan risiko COVID-19. Basra Amru dari RECON menekankan penting menyadari kaitan antara pemeriksaan (tes) COVID-19 dengan data kasus. Dari tes itulah kita mendapatkan data, dan dari data tersebut, kita bisa menentukan strategi yang tepat untuk penanganan pandemi COVID-19.

“Jangan sampai kita kalah cepat belajar sama COVID-nya dan berarti untuk belajar kita semua butuh data itu. Mari kita taati. Tak cukup menaati protokol kesehatan, tetapi juga dari protokol penangan COVID (3T) supaya kita bisa hidup berdampingan di pandemi ini,” pesan Basra.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.