Blusukan Literasi Digital di 15 RPTRA

“Kecakapan digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan gawai, tetapi juga cerdas dan bijak dalam menggunakannya”

Nadiem Makarim – Mendikbud-Ristek

ICT Watch dan Pandemi

Kami (Tim Blusukan RPTRA) mulai terlibat dengan kegiatan blusukan ICT Watch dan Whatsapp di beberapa RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di sudut wilayah ibukota Jakarta, pada sekitar tahun 2019. Dari kegiatan tersebut lumayan memanen pengalaman baru sebagai fasilitator, dengan menyasar para orangtua dan kader yang ada di wilayah sekitar RPTRA tersebut.

Lalu pandemi datang dan mengisolasi berbagai ruang terbuka untuk menghindari penularan virus Covid-19 yang dengan cepat banyak merenggut jiwa orang-orang yang kita kasihi, hingga  tahun 2021 akhir makin merenggang aturan isolasi dan sedikit demi sedikit ruang tatap muka pun mulai menggeliat  kembali.

Pastinya ada begitu banyak rindu dengan berbagai aktivitas luar ruang terutama yang berhubungan dengan komunikasi dan interaksi masyarakat.

ICT Watch menjawab beberapa tantangan pandemic Covid-19 dengan “menularkan” virus literasi digital di kalangan pemuda dengan meluncurkan program JaWara Internet Sehat pada pertengahan tahun 2021 dan dilanjutkan hingga tahun 2022 dengan menggerakkan 100 pemuda pemudi dari berbagai provinsi di tanah air menebarkan virus literasi digital di wilayahnya masing-masing.

Sasaran Remaja

Remaja adalah kelompok usia antara 13-18 tahun ini merupakan generasi yang tumbuh kembang di era digital dengan memanfaatkan internet dan media digital. Menurut laporan survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI), kelompok usia remaja ini justru merupakan pengguna internet tertinggi di Indonesia di angka 99,16 % dari keseluruhan pengguna internet di tanah air. Adapun perangkat yang digunakan para remaja menurut hasil survey adalah gawai atau ponsel cerdas (smartphone) sebesar 90,61 %.

Ini menunjukan bahwa remaja sangat melekat dengan berbagai informasi dan pengetahuan yang didapatkan melalui internet dan media digital. Seolah dunia ada dalam genggaman mereka. Namun apakah mereka memiliki pengetahuan dasar tentang literasi digital? Apakah mereka mampu menganalisa, menyikapi dan mengambil keputusan yang tepat ketika menemukan berbagai konten negatif yang beredar? Apakah mereka telah mampu melindungi identitas digital dari kejahatan cyber?

Guna menjawab berbagai tanya yang mengemuka dan meresahkan, sejak bulan November sampai Desember 2022 dimulailah sosialisasi dengan target sasaran kelompok usia remaja bermitra dengan WVI (Wahana Visi Indonesia) di 15 titik sekolah dan RPTRA yang ada di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Tempat pertama di sesi pagi yang kami datangi sebagai fasilitator literasi digital adalah MI Nurul Kamal. Sebuah sekolah yang berada dalam lingkungan padat penduduk, posisinya agak masuk ke dalam gang kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Ada sekira 40 siswa-siswi kelas 6 sudah tak sabar menunggu di kelas yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah dengan posisi duduk belajar seperti biasa, bangku dan meja yang ditata sehari-harinya.

Antusias siswa nampak ketika masuk pada sesi pembagian kelompok untuk mencairkan dan memudahkan menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh fasilitator, seperti menceritakan pengalaman apa saja selama berinternet, menganalisa serta mampu berpikir kritis saat menemukan status sendiri ataupun orang lain, dan memilah serta memilih kepada siapa data pribadi akan dibagikan.

Berbagai keseruan terjadi terutama ketika perwakilan tiap kelompok membacakan berbagai opini anggota kelompoknya. Begitu pula ketika nobar (nonton bareng) beberapa video tentang si Juki dan KBGO yang membuat suasana jadi tekun menyimak cerita Melisa yang dijebak oleh Dimas.

Seru-seruan berlanjut pada sesi tanya jawab, karena ada hadiah 5 powerbank untuk para pemenang yang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh fasilitator.

Adzan Dzuhur yang berkumandang di sebuah masjid yang letaknya di depan sekolah seolah jadi penanda berakhirnya kegiatan di sekolah tersebut. Anak-anak diarahkan untuk beristirahat sambil mengerjakan post tes dan menikmati makanan dan minuman.  

Sementara di luar kelas beberapa anak ada yang tertarik dengan ular tangga internet sehat yang kami gelar di halaman sejak pagi. Rasa penasaran mereka sedikit mencair namun tetap sabar menunggu giliran bermain. Beberapa anak ada yang melempar bantal dadu lalu melangkah kotak demi kotak, untuk mencapai finish. Saat bermain itulah anak-anak saling mengingat antara satu dengan lainnya ketika membaca informasi yang tertera dalam kotak yang dituju.

Upaya Membentengi Remaja

Setelah isoma (istirahat, sholat dan makan), kami bergeser menuju RPTRA Kamal Bahari yang posisinya hanya berjarak 2-5 menit dari lokasi pertama.

Pada waktu yang bersamaan di lokasi sedang ada hajat pernikahan, tapi kami meyakinkan diri untuk tetap mampu mengatasi berbagai permasalahan yang ada di lapangan.

Para peserta sesi siang sangat berbeda dengan sesi pagi hari, kali ini yang hadir lebih banyak usia antara 13-19 tahun dan mereka dipilih mewakili wilayah domisili serta sebagian adalah anggota Forum Anak Kecamatan terdekat.

Tak ada yang berbeda dengan penataan acara yang dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh salah satu peserta, sosialisasi pun dimulai dengan ice breaking untuk mencairkan suasana agar tetap fokus di saat jam tidur siang, hingga acara selesai.

Dari 15 titik RPTRA selalu saja ada yang berbeda, misalnya ketika berada di RPTRA Muara Indah yang kebanyakan dihadiri anak-anak yang usianya sekolah dasar dan pesertanya bukan berasal dari rusun yang berada di wilayah tersebut.

Awalnya agak kesulitan mencairkan situasi dalam kelompok karena kesulitan beradaptasi antara satu dengan yang lainnya. Akhirnya peserta pun dilebur dan dikembalikan pada kelompok yang mereka kenal agar mudah berkomunikasi dan menyelesaikan tugas.

Hasil Tes

Tak ada kendala yang berarti selama blusukan ke 15 RPTRA. Jikapun ada, hanya hal teknis yang masih bisa ditolelir sebagai manusia yang pastinya punya kesalahan, misalnya seperti salah jadwal, mapnya tidak sesuai atau kesasar jadi satu keseruan lain sebagai kenangan.

Selain materi presentasi visual yang memakai proyektor dan layar, WVI juga menyiapkan lembar timbal balik sebagai salah satu alat peraga yang bisa digunakan. Ini sangat efektif digunakan jika perangkat digital menghadapi kendala teknis, misalnya ngehank, seperti yang terjadi di hari pertama di MI Nurul Kamal.

Namun ada pula alat peraga lain yang kami siapkan seperti rangkaian puzzle atau informasi berantai yang saling ditautkan untuk memudahkan peserta mengingat materi yang diberikan dan lebih komunikatif dalam berinteraksi.

Sebagai fasilitator kami menyimpulkan. Setelah menyampaikan berbagai penjelasan, mulai nampak perubahan pemahaman dan sikap yang jelas serta terarah tentang bagaimana bersikap Ketika menemukan konten negatif serta mematenkan dalam pikiran bahwa meninggalkan jejak digital yang positif adalah sebuah keharusan.

Hasil tes juga menginformasilkan bahwa para peserta mulai mampu menganalisa mana identitas pribadi yang layak dibagikan dan kepada siapa diberikan. Empati juga terbangun sehingga mereka jadi lebih peduli pada diri, keluarga dan handai taulan yang jadi korban KBGO (kekerasan berbasis gender online) dan cyberbullying.

Dari 254 peserta yang mengikuti tes, 53% setuju bahwa mempelajari literasi digital itu perlu. Ada hasil yang cukup mencengangkan yaitu terdapat 17,1 % peserta yang mengalami cyberbullying, sementara 11,6 % lebih memilih untuk tidak mengatakan.

Mengokohkan 4 pilar dasar literasi digital bukan hanya persoalan yang dihadapi masyarakat di ibukota yang padat dengan informasi dan kemudahan yang dimiliki, tapi jadi tugas bersama warganet di seluruh nusantara yang hanya bisa dipersatukan dalam kebhinekaan dan kebermanfaatan dengan memproduksi dan menyebarkan konten yang positif. (ira/mt)