SEA IGF 2021: The Urgency of Integration of Information and Communication Technology Volunteers with Education Systems in Digital Transformation in Southeast Asia

Internet Sehat : Internet merupakan hal fundamental di dalam kehidupan manusia. Kebutuhannya kian terasa ketika Indonesia bahkan dunia dilanda Pandemi COVID-19

Berdasarkan penuturan Direktur Pemberdayaan Informatika Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto. M.Eng, sekitar 202,6 juta masyarakat di Indonesia menggunakan internet dengan 170 juta pengguna aktif sosial media Sementara untuk penggunaan internet di Indonesia rata-rata 8 jam 52 menit. 

Meskipun dipandang sebagai kebutuhan dasar, sayangnya belum semua kalangan siap, dengan semua orang dipaksa untuk berpindah aktivitas yang sebelumnya dimulai dari tatap muka menjadi aktivitas daring atau online. Boni juga menyadari bahwa kemampuan literasi menjadi aspek mendasar dari perkembangan digital ekonomi. 

Di tengah pandemi COVID-19 ini, ia mengakui masih merasakan adanya gap antara kemampuan literasi digital. Terutama, di daerah pedesaan.

“Kita tahu 83 ribu desa di Indonesia, masih ada 12.148 desa yang belum memiliki jaringan 4G. Mengetahui meningkatkan kebutuhan internet di Indonesia, Kemkominfo menargetkan kebutuhan jaringan network ini sudah bisa merata di tahun 2022,” tutur Pak Boni di forum SEA IGF 2021.

Selain adanya keterbatasan akses internet yang akan diusahakan merata pada tahun depan, pemerintah juga melihat masih ada kesenjangan literasi digital. Salah satunya melalui program literasi digital untuk mendukung masyarakat yang melek digital.

Kini, Kemkominfo berharap program literasi digital yang dijalankan pada 2020-2024 ini dapat menutupi gap di masyarakat. Namun, Boni menyadari bahwa pemerintah tidak dapat melakukannya sendiri untuk mencapai pemerataan literasi digital dan internet di Indonesia. Kini pemerintah berkolaborasi dengan Digital Pathways Oxford, Smeru, CSIS  untuk mendukung kerangka kerja literasi digital.

Selama ini, pemerataan masyarakat literat internet telah dibantu dari berbagai akademisi termasuk dari masyarakat itu sendiri.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Rinda Cahyana, M. T. selaku Relawan TIK dan dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dibutuhkan telecenter di negara-negara berkembang untuk mendukung masyarakat yang literat terhadap teknologi informasi. Hal ini telah diimplementasikan di Indonesia melalui Relawan TIK yang ada di setiap daerah.

“Telecenter disediakan di negara berkembang, sebagai upaya untuk membawa orang-orang yang belum siap berdigital untuk menjadi orang-orang yang memahami, apa sih kegunaannya mereka menjadi masyarakat yang (melek teknologi) informasi.  Telecenter ini membuat orang paham dan membawa orang-orang yang takut perangkat teknologi.” jelas Rinda pada forum yang sama.

Rinda mengatakan, telecenter ini menyediakan segala informasi termasuk perangkat teknologi dan informasi, untuk mendukung kebutuhan masyarakat yang perlu mengakses internet. Di samping itu, telecenter juga membantu mengedukasi masyarakat dalam menghadapi beragam tantangan hidup di dunia digital, mulai dari menghadapi hoaks, menghindari hate speech, termasuk etika berinteraksi di media sosial.

Menyambung kebutuhan di era pandemi COVID-19, banyak sekali masyarakat yang membutuhkan lapangan pekerjaan. Saat ini dibutuhkan pejuang dari masyarakat yang mampu memberdayakan sesamanya, untuk memberikan lapangan pekerjaan dengan cara mudah.

“Untuk membawa masyarakat sedemikian banyak ini, pemerintah memiliki SDM yang terbatas. Maka, diperlukan banyak warga negara yang secara sukarela mau membantu pemerintah untuk melakukan pembebasan dari buta digital ini. Salah satunya adalah relawan TIK,” ujar Rinda menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat sipil dengan pemerintahan untuk dukung literasi digital.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.