Thailand Pakai Kembali Undang-undang Kontroversial untuk Menghadang Protes

Thailand Pakai Kembali Undang-undang Kontroversial untuk Menghadang Protes

Internet Sehat : Thailand telah menghidupkan kembali undang-undang kontroversial yang melarang kritik terhadap keluarga kerajaan dalam upaya untuk mengekang protes anti-pemerintah yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Beberapa aktivis telah dipanggil untuk menghadapi dakwaan berdasarkan hukum lèse-majesté yang membawa hukuman hingga 15 tahun penjara untuk setiap dakwaan. Dakwaan tersebut merupakan pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun diajukan.

Thailand telah diguncang oleh protes yang dipimpin mahasiswa selama berbulan-bulan, dengan demonstran menuntut perubahan pada monarki. Para pengunjuk rasa juga menyerukan reformasi konstitusi dan pencopotan perdana menteri.

Pada hari Selasa, seorang aktivis mahasiswa terkemuka, Parit Chiwarak yang berusia 22 tahun, mengatakan bahwa dia telah menerima panggilan untuk lèse-majesté, tetapi ia mengatakan tidak takut atas dakwaan tersebut.

Setidaknya enam pemimpin protes utama lainnya, termasuk pengacara hak asasi manusia Anon Nampa dan Panusaya Sithijirawattanakul, diperkirakan akan menghadapi tuduhan yang sama.

Hukum lèse-majesté Thailand, yang melarang penghinaan apapun terhadap monarki, termasuk yang paling ketat di dunia. Pemberlakuan kembali dakwaan di bawah hukum lèse-majesté dilakukan menjelang demonstrasi yang direncanakan pada hari Rabu di Crown Property Bureau, sebuah lembaga yang mengontrol kekayaan kerajaan atas nama monarki, yang terletak di ibu kota Thailand, Bangkok.

Tidak ada tuntutan lèse-majesté yang diajukan dalam beberapa tahun terakhir atas permintaan Raja Vajiralongkorn, menurut pemerintah Thailand. Perkembangan terbaru ini mengikuti kritik yang semakin vokal terhadap raja oleh para pengunjuk rasa. Raja Vajiralongkorn dikritik karena menghabiskan sebagian besar waktunya di Jerman.

Ada juga pertanyaan tentang keputusan Raja Vajiralongkorn untuk mengambil komando pribadi dari semua unit militer yang berbasis di Bangkok – konsentrasi kekuatan militer di tangan kerajaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Thailand modern.

Pekan lalu, sedikitnya 41 orang terluka setelah bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di ibu kota Thailand, Bangkok. Para pengunjuk rasa berusaha mencapai parlemen, di mana anggota parlemen memperdebatkan kemungkinan perubahan pada konstitusi.

Sumber : BBC

Sumber Foto : Pikiran Rakyat Jember

Yuk belajar Privasi, Gratis di Galeri Privasi

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.