SEA IGF 2021: Multistakeholder Approaches to Accelerate COVID-19 Public Communication Through Utilization of Digital Transformation

Komunikasi menjadi kendaraan fundamental untuk menyampaikan informasi mulai dari berita berbasis fakta, edukasi, hingga hiburan. Usaha-usaha ini membutuhkan beragam pihak, seperti pemerintah, media, masyarakat sipil, swasta, hingga organisasi dunia.

Salah satu tantangan komunikasi yang dihadapi adalah hoaks yang terus berkembang.

Dedy Permadi, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, mengatakan komunikasi publik menjadi hal yang sangat penting, terutama menghadapi isu hoaks. Pasalnya, selama masa pandemi terdapat 100 ribu hoaks seputar COVID-19 dan 300 isu hoaks seputar vaksin COVID-19.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuh kolaborasi yang masif. Dalam hal komunikasi publik untuk mendukung vaksinasi COVID-19 nasional, membutuhkan kolaborasi pemerintah yang mengeluarkan informasi relevan, media yang memberitakan informasi akurat, ekspert dan tenaga kesehatan yang memaparkan informasi dan studi ilmiah, masyarakat sipil yang mampu melawan hoaks dan disinformasi,” jelas Dedy dalam forum SEA IGF 2021.

Dedy menekankan bahwa kolaborasi ini juga mendorong transformasi digital, yang mana bisa menghubungkan mereka yang tidak terkoneksi (connecting the unconnected).

Selain menghadapi hoaks, komunikasi publik ini perlu dilakukan untuk mengkampanyekan kepada publik untuk tetap menjaga antusiasmenya terhadap vaksinasi COVID-19. Pasalnya, semua vaksin perlu diberikan bertahap dan ada daerah-daerah tertentu yang menjadi prioritas. Salah satu komunikasi publiknya dilakukan oleh KPCPEN.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati mengatakan bahwa salah satu strategi komunikasi publik yang dapat dilakukan adalah dengan membuat narasi utama sebagai landasan media relations.

Perkembangan isu berkembang sangat cepat dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, dibutuhkan tools untuk mengawasi perkembangan informasi beredar. Mulai dari memonitor komentar lewat kalan media sosial, memantau komplain publik lewat 1500567.

Strategi ini merupakan upaya agar pesan yang tersampaikan benar-benar jelas hingga ke publik. Salah satu perkembangan informasi dari Kementerian Kesehatan RI dapat diketahui melalui situs kemkes.go.id

Hingga saat ini pemerintah bersama organisasi dunia juga bergandengan dengan influencer terutama dari platform yang kini naik daun, yaitu TikTok, dalam menangkal isu hoaks dan menyebarkan informasi edutainment.

Diutarakan juga oleh Teresa Tan, representatif dari TikTok, bahwa platform ini menjadi salah satu medium yang menyenangkan dan inspiratif di tengah pandemi COVID-19. Terutama di tengah masa pandemi. 

Teresa juga mengatakan, komunikasi menjadi hal yang sangat penting di saat-saat sekarang. Hal ini karena semua orang perlu mendapat informasi terkini meskipun adanya keterbatasan aktivitas secara luring.

“Komunikasi menjadi hal fundamental untuk memberikan pengetahuan, di mana mereka bisa cari tahu informasi, kemudian like share opini, dan ada user juga bisa berpartisipasi memberikan info inspiratif (melalui platform TIkTok),” jelasnya.

Maka itu, TikTok juga menyajikan rekreasi entertainment untuk keluarga, melalui beragam challenges, salah satunya #SamaSamaDiRumah. Challenges ini dilakukan untuk menggaet dan mengisi gap antargenerasi dengan cara yang lebih menyenangkan.

TikTok memang dipandang sebagai platform yang cukup menarik perhatian dan dijadikan sebagai tools strategi dalam komunikasi publik. Menyambung hal ini, Rizky Ika Syafitri sebagai bagian Spesialis Komunikasi Perubahan Perilaku dari UNICEF Indonesia dan Komunikasi Publik KPCPEN mengatakan, UNICEF bekerjasama dengan pemerintah dan Satgas COVID-19 untuk mendukung rantai komunikasi dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat pada vaksinasi COVID-19.

Mengapa ini dibutuhkan? Pada kondisi sebelumnya, jangkauan vaksinasi di kalangan tenaga kesehatan sangat rendah, hanya sekitar 50 persen saja. Kemudian Kementerian Kesehatan RI membutuhkan bantuan untuk meningkatkan jangkauan vaksinasi terhadap nakes.

Rizky menambahkan, strategi komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi ke publik adalah dengan platform digital. Komunikasi ini dilakukan untuk memonitor komunikasi dan kegiatan yang dilakukan.

“Ini merupakan dukungan UNICEF terhadap pemerintah dalam hal sosial media, kami bekerja dengan para influencer agar dapat membantu peningkatan penerimaan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan, dan komponen ketiga adalah keterlibatan komunitas dan masyarakat,” jelas Rizky. 

Selain itu, UNICEF Indonesia juga memberikan ‘ruang peka’ kepada para anak-anak untuk mendukung kesehatan. Di ruang tersebut, UNICEF mengadvokasi untuk mitigasi dampak jangka panjang untuk anak-anak yang rentan terhadap kesehatan mental mereka di tengah pandemi.

UNICEF Indonesia bersama pihak-pihak lainnya juga mendukung upaya untuk mendukung kesetaraan informasi berbasis fakta. Termasuk memberi bantuan penanganan terhadap anak yang terdampak COVID-19.

Melihat pemaparan dari beragam representatif, dapat disimpulkan bahwa komunikasi menjadi hal yang tidak terpisahkan. Terutama dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat, memberikan fakta, menjadi pengingat untuk tetap menyaring informasi yang diterima agar tak mudah terpapar berita hoaks di tengah pandemi COVID-19.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.